BACA JUGA : Imbas dari Curah Hujan yang Tinggi, Drainase Tak Normal Tanaman Bisa Mati
Kaprodi D-3 Keuangan dan Perbankan sekaligus Dosen Ekonomi Institut Teknologi dan Sains Mandala (ITSM) Mustofa menjelaskan, IPM di Jember masih dalam kategori sedang karena tingkat pendidikan yang masih rendah. Padahal, saat ini banyak beasiswa pendidikan hingga ke perguruan tinggi. “Peran pemerintah untuk dana pendidikan dan kesehatan harus dipersiapkan sebesar mungkin,” ujarnya.
Selain itu untuk pengeluaran per kapita pada tahun 2022, kota atau kabupaten di wilayah Tapal Kuda tertinggi dicapai oleh Banyuwangi yaitu Rp 12,3 juta dan yang terendah adalah Lumajang yaitu Rp 9,4 juta dalam satu tahun. Untuk wilayah Jember pengeluaran per kapita masih terbilang rendah yakni di angka Rp 9,8 juta dalam satu tahun. “Itu merupakan salah satu gambaran bahwa produktivitas penduduk Jember masih kurang bagus,” ucap Mustofa.
Jika pengeluaran per kapita tinggi, maka aktivitas perekonomian juga tinggi. Karena dengan pengeluaran tinggi, otomatis pendapatan yang didapat masyarakat tinggi. Selain itu, adanya pengeluaran juga bisa menggerakan perekonomian dan selanjutnya bisa berdampak kepada peningkatan pendapatan hingga jumlah lapangan pekerjaan. Nilai pengeluaran per kapita hanya, Rp 9,8 juta. Maka, menurutnya, satu keluarga di Jember rata-rata tidak pengeluaraan tidak sampai Rp 1 juta dalam satu bulan.
Mustofa berharap, untuk stakeholder harus ada strategi dan inovasi yang jitu agar pendapatan per kapita di masyarakat bisa meningkat. “Kuncinya adalah bagaimana pemerintah bisa meningkatkan ekonomi kreatif, sehingga pendapatan per kapita bisa naik secara signifikan,” pungkasnya. (nan/dwi)
Editor : Safitri