BACA JUGA : Asap Rokok Berbahaya bagi Tumbuh Kembang Janin di Kandungan
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember Bambang Saputro menjelaskan, sebelumnya tomat bukan merupakan salah satu harga bahan pokok dan penting (bapokting) yang naik, namun saat ini justru turun. Tomat mengalami kenaikan, karena kondisi saat ini cuaca yang sering hujan, sehingga banyak tanaman tomat yang rusak. “Ada beberapa komoditas yang harganya naik. Di antaranya telur ayam ras, bawang merah, cabai, dan tomat.” tuturnya.
Selain itu, ia menambahkan, pasokan tomat saat ini justru berkurang karena banyak yang busuk. Petani juga banyak yang gagal panen. Di sisi lain, kenaikan harga tomat justru membuat petani senang.
Salah satu penjual tomat di pasar tradisional, Siti, menjelaskan, meskipun harga tomat sedang naik, namun masih banyak yang membeli tomat di pasar. “Sekarang banyak dapat tomat yang setengah matang yang warnanya hijau,” paparnya.
Terpisah, perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Jember yang hadir dalam press release di Badan Pusat Statistik (BPS) Jember (1/12), Karwisono, menjelaskan, beberapa komoditas pertanian yang sering mengalami gejolak yakni cabai merah, cabai rawit, dan tomat. Untuk tomat memang di bulan November harganya naik, karena puncak panen raya di bulan Oktober 2022. “Masih ada sekitar 17 hektare untuk tanaman tomat yang ada di wilayah Jember,” ujarnya.
Selain itu, petani tomat mulai beralih ke padi, karena sudah memasuki musim hujan. Ini berarti tanaman tomat di bulan-bulan berikutnya akan lebih berkurang dan prediksi kenaikan harga tomat belum diketahui sampai kapan. Salah satu faktor yang memengaruhi tanaman tomat bagus atau tidak yaitu cuaca. (nan/c2/dwi) Editor : Safitri