BACA JUGA : Program Bangga Kencana dan Penurunan Stunting Bersama Mitra Kerja
Novita Intan Pratiwi merupakan salah satu pemilik usaha bubur. Dia menyajikan bubur dengan cukup unik. Namanya Bubur Bakar Presiden. Dari namanya saja sudah membuat orang tertarik. Bubur ini pun sesuai namanya, yakni dibakar pada tempat khusus.
Perempuan muda ini menyebut, tidak sedikit bisnis di Jember ini yang tumbuh karena diawali dari kesukaan pemiliknya. Namun, berbeda dengan Novita. Dia memilih bisnis bubur karena keinginannya membuat makanan yang identik dikonsumsi ketika orang sakit. Supaya bisa dinikmati setiap saat dan setiap waktunya. “Memang awalnya kami pakai metode bisnis, yakni amati, tiru, modifikasi (ATM) dari kota lain. Tapi, selain itu, karena keinginan saya agar orang-orang dapat menikmati makanan di berbagai keadaan dan waktu,” jelas perempuan itu sambil tersenyum.
Ide bisnisnya itu mendapat respons baik dari masyarakat. Dengan banyaknya pelanggan setia dan tidak pernah sepi. Namun, dia juga mengaku pernah mendapat ungkapan bernada meremehkan dari banyak orang, termasuk temannya. “Bubur bakar ini kan juga viral di kota lain. Menurut orang-orang, kalau bisnis yang viral itu tidak akan bertahan lama. Bahkan katanya tidak lebih dari tiga bulan,” tuturnya.
Dia melanjutkan, cibiran yang meremehkan tersebut menjadi tantangan dan motivasi tersendiri baginya. Novi pun terbuka terhadap masukan dan berinovasi terus-menerus. Dijadikannya senjata utama melawan tantangan yang ada.
Saat ini, Novi menjadi penjual bubur sudah berjalan sekitar dua tahun. Novi mengaku tidak pernah berhenti untuk berinovasi. Usahanya kali ini tidak hanya menyajikan menu bubur. Tapi juga beberapa menu makanan lain yang tidak kalah uniknya. “Setiap berbisnis harus pandai melihat peluang. Begitu juga dengan inovasi yang harus terus-menerus dilakukan. Jangan takut melangkah, itu kuncinya,” pungkasnya. (mg2/c2/nur) Editor : Safitri