BACA JUGA : Hati-Hati! Muncul Retakan di Jalan Menuju Wisata Gunung Gambir Jember
Pengamatan Jawa Pos Radar Jember, ada puluhan warga yang kini berjualan di jalan samping Pasar Tanjung. Sebagian pedagang ada yang memiliki lapak nonpermanen dengan atap paying dan terpal. Namun, sebagian pedagang berjualan dengan cara lesehan dan tidak dilengkapi atap.
Banyaknya warga yang berjualan secara lesehan menandakan fasilitas tempat berjualan di Jember kurang. Faktornya yakni jumlah pedagang bisa dibilang lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi itu semakin sesak saat sore hingga malam hari. Bahkan, menjelang Subuh hingga mendekati matahari terbit, di sekitar Pasar Tanjung tampak sesak.
Meski demikian, semangat para pedagang tak luntur. Namun, nasib mereka cukup memprihatinkan saat turun hujan. Mereka yang berjualan secara lesehan dengan menggelar dagangan di jalan aspal yang paling berdampak. Saat hujan, penjualan pun turun drastis. “Saat hujan, semua pedagang ya lari. Kalau hujan turun tiba-tiba, dagangan ditutup plastik. Kalau masih terlihat mendung atau gerimis, biasanya masih sempat dibawa ke pinggir, di sekitar pasar,” kata seorang pedagang, Edy Subianto.
Dikatakan, ketika hujan turun, pedagang yang tidak memiliki payung atau terpal bisa dipastikan dagangannya basah. Hal itu memengaruhi kondisi dagangan. Jika terlalu lama tidak terjual, sayur maupun dagangan lain terancam rusak.
Selain itu, Edy menjelaskan, pedagang yang berjualan tanpa tempat permanen itu akan gigit jari. Sebab, saat hujan turun, maka dagangan tidak terjual. “Begitu ada gerimis, semua pembeli hilang. Tidak ada yang datang, karena takut basah,” ulasnya.
Edy mengaku, dia dan pedagang Pasar Tanjung lainnya yang tidak memiliki tempat permanen berharap tidak turun hujan saat mereka berjualan. “Tapi, rata-rata hujannya sore dan malam. Sementara, jam buka di pasar ini baru buka sekitar jam tiga sore. Jadi, kalau sudah hujan, ya buyar semua,” imbuhnya.
Dia mengeluh, sejumlah dagangannya sekarang mengalami penurunan yang signifikan. Terutama dagangan sayuran. Meski demikian, puluhan pedagang di pasar sore itu tetap berjualan setiap hari. Bila turun hujan, mereka mengandalkan plastik untuk menutup dagangannya. “Ada yang pakai payung, ada juga yang harus gulung tikar. Berhenti jualan sementara karena hujan,” jelasnya.
Sementara itu, Mutmainnah, yang sempat membeli sayur di Pasar Tanjung, menyebutkan, dirinya membeli sayur pada malam hari, karena waktu sore sempat mendung. “Kemarin sempat kehujanan, tetapi sekarang lihat cuaca dulu kalau mau ke pasar,” kata perempuan yang membuka sebuah warung di Kaliwates tersebut. Dia berharap tidak turun hujan saat aktivitas pasar padat. Namun, dia juga pasrah, karena cuaca urusan alam. (mun/c2/nur) Editor : Safitri