Pada saat krisis moneter tahun 1998, perekonomian di Indonesia benar-benar anjlok. Warga di banyak penjuru berbondong-bondong untuk menarik uang dari bank. Perekonomian semakin morat-marit, harga BBM mahal, bahkan nilai tukar rupiah yang awalnya hanya sebesar Rp 2.380 per US$ 1, anjlok hingga menyentuh angka terburuk. Saat itu, US$ 1 setara dengan Rp 16.650.
Sekretaris LPS Dimas Yuliharto menyampaikan, pemulihan ekonomi di era krisis moneter tahun 1998 membutuhkan dana besar, mencapai hingga ratusan triliun. "Pada saat itu, LPS belum ada. Sehingga orang-orang tidak percaya kepada bank karena belum ada yang menjamin," katanya.
BACA JUGA: Di Desa Ini, Urus Adminduk hingga Perbankan Cukup di Kantor Desa
Pria asal Surabaya ini menyebut, LPS berdiri tahun 2004 dan beroperasi setahun berikutnya. Pada 2008, Indonesia mengalami krisis, sehingga mengharuskan Bank Century ditutup. Namun, sejumlah pihak menghendaki agar Century diselamatkan dengan suntikan dana. "Pada saat itu, orang sudah tidak banyak menarik uangnya seperti tahun 1998. Century dipertahankan karena memiliki efek domino," ulasnya.
Dimas menambahkan, krisis di Indonesia juga sempat terjadi pada tahun 2014 dan 2016. Namun, warga tidak banyak yang menarik uang karena jaminan uang nasabah sudah semakin jelas. "Kewenangan LPS kemudian lebih kuat lagi sebagai lembaga penjamin uang nasabah," jelasnya.
Nah, krisis ekonomi di Indonesia juga sempat terjadi pada saat pandemi Covid-19. Namun demikian, warga sudah percaya bahwa uang mereka yang ada di bank-bank dijamin keamanannya. "Peran LPS sangat penting sebagai lembaga penjamin simpanan. Sehingga krisis saat korona kemarin, ekonomi tetap stabil," jelas Dimas. (*)
Reporter: Nur Hariri
Foto : Nur Hariri
Editor : Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal