BACA JUGA : Lemkapi Tepis Isu Tiga Kapolda Intervensi Kasus Pembunuhan Brigadir J
Data terakhir Badan Pusat Statistik Jember, gejolak peningkatan angka pengangguran terjadi pada saat pandemi menghantam Jember dan Indonesia. Beberapa perusahaan tutup, orang kerja dirumahkan, dan banyak penyebab lain. Akibatnya, angka orang menganggur pada 2019 yang mencapai 47.629 jiwa, meningkat menjadi 67.448 jiwa pada 2020. Sedangkan data 2021, jumlah pengangguran kian bertambah menjadi 73.017 jiwa.
Fakta yang terjadi di lapangan, terjadinya peningkatan angka pengangguran bermacam-macam. Ada yang memang dipecat dari tempat kerjanya, ada yang diberhentikan sepihak, namun tidak sedikit yang belum mendapat kesempatan kerja karena tidak ada lapangan kerja yang menerimanya.
Angka pengangguran ini pun banyak disumbang oleh lulusan SD, SMP, SMA dan sederajat. Tak ketinggalan lulusan perguruan tinggi atau mereka yang sudah sarjana juga tidak sedikit yang masih pengangguran. Untuk itulah, banyak harapan agar pemerintah mampu menyediakan lapangan kerja.
Ahmad Jenuri, pria asal Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, menjadi salah satu anak muda yang sampai saat ini menganggur. Dirinya belum mendapat pekerjaan selama lima tahun terakhir, sejak lulus SMK tahun 2017 lalu. Ahmad sebenarnya punya harapan yang sama, yakni bisa bekerja seperti orang lain. “(Kalau bisa kerja, Red.) nanti gajinya bisa saya buat buka usaha bengkel motor sesuai dengan jurusan waktu saya sekolah,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember. Namun, sejak lulus, dia belum diterima bekerja di sejumlah perusahaan.
Dia mengaku sudah banyak melayangkan surat lamaran kerja ke sejumlah perusahaan. Beberapa tempat usaha tidak menggubris lamaran yang dikirim. Beberapa perusahaan sempat merespons dengan baik dan memberikan kesempatan mengikuti tahapan interview. Namun, dia hanya sampai di situ. “Tapi ujung-ujungnya gagal lagi, gak keterima,” keluh pria yang akrab dipanggil Jen tersebut.
Jen mengaku dirinya sabar karena belum bisa bekerja di perusahaan yang besar. Namun demikian, waktu terus berlalu. Umur Jen kian bertambah. Dia pun mencoba melamar semua bidang pekerjaan, namun tidak ada yang menerimanya bekerja.
Suatu ketika, pada tahun 2021, dia sempat mendapatkan panggilan pekerjaan pada perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi, tepatnya di bagian marketing. Sayangnya, dua minggu bekerja dia diberhentikan karena tidak memenuhi target dan tidak digaji selama dua minggu tersebut. “Saya merasa dunia benar-benar gak suka sama aku. Sudah dapet kerja malah diberhentikan,” jelasnya.
Dia mengaku ingin sekali diberi kesempatan karena teman-teman seangkatannya sudah banyak yang bekerja, sementara Jen terjebak menjadi pengangguran. Bukan hanya Jen, susahnya mencari pekerjaan juga dialami oleh Muhammad Brilly Anugrah. Pria 28 tahun asal Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, itu sempat terkena pengurangan tenaga kerja saat pandemi lalu. Sampai saat ini dirinya tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Pria yang akrab dipanggil Brilly itu mengaku sudah mencoba melamar di beberapa perusahaan, namun tidak mendapatkan panggilan.
"Kecewa banget, padahal buat surat lamaran itu butuh biaya. Apalagi materainya yang sekarang Rp 10 ribu. Harusnya mereka mengerti, atau setidaknya surat lamaranku dikembalikan agar bisa dipakai di perusahaan lain," tuturnya.
Kalau hanya mengandalkan surat pengalaman kerja dan ijazah, menurutnya tidak bisa menjadi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan. Meskipun sudah punya ijazah tinggi dan banyak pengalaman kerja, namun tidak punya orang dalam, menurutnya tetap susah.
Terlepas dari banyaknya penyebab yang ada, kini dampak pandemi yang sudah melandai, khususnya bagi dunia kerja masih belum sepenuhnya pulih. Jika sebelum pandemi atau tahun 2019 angka pengangguran mencapai 47.629 jiwa, kini angka pengangguran di Jember berdasar data terakhir tahun 2021 yakni 73.017 jiwa atau setara dengan 5,53 persen. Jen, Brilly, dan banyak orang yang menganggur berharap agar tersedia lapangan kerja memadai. (mg6/c2/nur) Editor : Safitri