Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Meracik Asa lewat Barista

Safitri • Sabtu, 10 September 2022 | 17:43 WIB
PUNYA SKILL: Shellen Yossymon, perempuan yang menjadi head barista karena pandai meracik kopi yang dinikmati pelanggan.
PUNYA SKILL: Shellen Yossymon, perempuan yang menjadi head barista karena pandai meracik kopi yang dinikmati pelanggan.
KARANGREJO, Radar Jember – Peracik kopi atau barista sejauh ini mungkin masih didominasi kaum pria. Namun, sejalan dengan tren ngopi yang terus berkembang, keberadaan barista perempuan juga bermunculan. Seperti Shellen Yossymon, yang awalnya hanya ingin bekerja sampingan, namun justru kecanduan menjadi barista. Lewat jemari tangannya, dia seperti meracik harapan hidup di FOX Cafe, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, Jember.

BACA JUGA : Validasi Data Penerima, Antisipasi Orang Meninggal Menerima BLT BBM

Rasa ingin tahu yang tinggi membuat Shellen Yossymon melompat jauh dari Pendidikan Bahasa Inggris, bidang yang semula ditekuninya sewaktu kuliah di Universitas Negeri Jember (Unej). Kini memilih menjadi seorang barista. "Awalnya sewaktu kuliah pengen cari kerja sampingan. Terus ada lowongan ini barista, ternyata cocok dan aku suka di bidangnya. Jadi, aku lanjutin aja,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Perempuan yang akrab dipanggil Shell itu membekali diri tentang urusan perkopian, terutama barista, dengan latihan rutin sejak pertama kerja di awal tahun 2018. Mulai dari awal karirnya menjadi junior barista pada tahun 2018. Kemudian, di tahun 2019 menjadi senior barista. Hingga pada tahun 2021 Shell berhasil berada di puncak kedudukan barista, yaitu head barista.

Sesekali di sela-sela pekerjaannya, gadis kelahiran Bondowoso itu belajar membuat latte art dengan rekan kerjanya yang lebih senior dari dirinya. Shell memulai latihan latte art sejak awal dia berkarir menjadi barista. Secara perlahan, Shell akhirnya bisa membuat latte art meskipun itu hanya gambar basic.

Menurutnya, untuk belajar latte art cukup sulit. Sebab, biasanya kalau masih dalam tahap belajar, jarak antara gelas pitcher dan cangkir yang digunakan terlalu dekat atau terlalu jauh. “Mengukur antara gelas pitcher dan cangkir yang menjadi titik tersusah waktu latihan. Kalau jauh ga bisa, kalau dekat juga ga bisa,” jelasnya.

Dirinya butuh waktu tiga bulan untuk latihan dasar membuat latte art. Sejauh ini, mengenai latte art, Shell masih bisa menggambar basic seperti bentuk love, tulip, rosetta, dan swan. Gambar yang lebih rumit seperti gambar hewan, Shell masih berlatih sampai sekarang.

Selama dia berkarir menjadi barista, banyak hal yang sudah dilaluinya. Seperti sering digoda pelanggan kafe, ditunggu sampai pulang, dan banyak juga yang meminta nomor kontak. Menurutnya, itu merupakan hal yang biasa jika berada di lingkungan kafe. Tergantung cara menanggapinya.

Melalui kemampuannya, yang mungkin jarang dimiliki dan diminati oleh banyak perempuan, Shell pernah menjadi juara tiga pada lomba barista yang diadakan di Jember. Dengan mengalahkan pesaingnya yang mayoritas laki-laki dan yang pasti lebih berpengalaman. “Ga nyangka sih kalau bisa juara tiga, melihat pesaingnya yang sudah lebih berpengalaman,” ungkapnya.

Melihat jumlah barista perempuan di Jember yang sedikit, Shell berharap agar perempuan yang memang ingin berkarir menjadi barista tidak perlu malu. “Barista itu bukan pekerjaan cowok, barista itu juga bisa buat perempuan. Jadi, kalau memang ingin menjadi barista, ya digas aja, enak kok,” pungkasnya. (mg6/c2/nur)

  Editor : Safitri
#Jember #barista #Kopi