BACA JUGA : Tak Ada Bukti Kesalahan Juri, Hakim Tolak Banding Amber Heard
Salah satu perajin makrame di Desa Lampeji, Mumbulsari, adalah Meli Andani, 37, yang berhasil melebarkan sayap produknya hingga pasar luar negeri. Meli mulai merintis pembuatan makrame sejak tahun 2015 silam. Awalnya Meli merantau ke Pulau Bali dan terinspirasi dari kerajinan warga lokal. Meli pun berburu bahan dasarnya mulai dari perak, kerang, sampai batok kelapa.
Meli pun bertekad membuat makrame sendiri. “Saya terinspirasi dari kerajinan di Bali. Seperti melukis, mengukir, menganyam, dan masih banyak lagi. Makrame ini jenis kerajinan tangan dari bahan dasar benang katun,” ujarnya.
Berkat jerih payahnya, Meli mulai mendapatkan pundi-pundi omzet hingga ratusan juta. Satu makrame dia jual dengan harga bervariasi. Mulai dari paling murah Rp 5 ribu sampai ada yang dibanderol Rp 2 juta. Semakin mahal makrame, makin rumit pula tingkat pembuatannya.
Meli tak sendiri membuat makrame tersebut. Dia akhirnya menggandeng warga sekitar rumahnya. Bahkan sementara ini, karyawan Meli sudah sampai 50 orang. Namun, pembuatan makrame itu tak langsung dikerjakan di rumah Meli. Para karyawannya membawa pulang bahan untuk dikerjakan di rumah mereka masing-masing.
Makrame Meli belum banyak diminati pasar dalam negeri. Namun, produknya justru sudah banyak diekspor ke luar negeri.
“Kalau di masyarakat sekitar jarang peminatnya. Bahkan kota besar seperti Surabaya pun sedikit pemesanannya. Yang sering kami kirim itu ke Australia dan Belanda,” ujar Rosyidi, suami Meli.
Untuk penjualannya kini tak lagi perorangan. Melainkan banyak perusahaan luar negeri langsung yang memesan produk Meli. “Jadi sudah perwakilan perusahaan yang membeli makrame saya,” pungkas Meli. (c2/bud)
Editor : Safitri