Aktivitas ini dimulai sejak medio 2019 lalu. Gelas-gelas plastik bekas minuman itu ia dapatkan ketika melintas di depan salah satu sekolah. Jumlahnya banyak. Kadang-kadang sampai menggunung. Nunung pun memungutnya dan memasukkan ke dalam kantong plastik besar untuk dibawanya pulang dan dibersihkan. “Sudah kayak pemulung. Memungut bekas gelas plastik, terus dibawa pulang,” katanya.
Setelah itu, Nunung membersihkannya mulai bagian atas hingga keseluruhan. Proses ini cukup panjang dan lama karena harus satu per satu. “Kadang dibantu sama anak-anak. Suami juga ikut membersihkan,” ujar perempuan yang tinggal di Kelurahan/Kecamatan Patrang, tak jauh dari RSD dr Soebandi ini.
Ketika sudah bersih, gelas plastik itu kemudian dipotong hingga ujung atasnya. Hingga hanya menyisakan bagian yang melingkar. Setelah itu, Nunung merakitnya dengan benang sampai membentuk sebuah lingkaran. “Selanjutnya, dirakit lagi untuk dasar piringannya. Ini saya semua yang mengerjakan. Suami dan anak-anak tidak bisa,” tuturnya.
Mulanya, Nunung tak memiliki niatan untuk mengomersialkan produk kreasinya itu. Ia membuatnya karena alasan lingkungan. Selain itu, dia juga memang hobi membikin kerajinan, serta untuk mengisi waktu kosong. Namun, lambat laun banyak kolega suaminya dan rekan-rekannya di gereja yang kepincut dan memesan. “Lama-lama ada yang pesan. Jumlahnya mulai dari 10 biji. Sejak saat itu pesanan terus datang,” ungkapnya.
Piring ini cukup praktis untuk wadah makanan di acara skala besar. Sebab, pengguna hanya perlu memberikan kertas minyak sebagai alas makanan. Jika sudah digunakan, kertas minyak bisa dibuang. Lalu, piring disimpan kembali. Walaupun terbuat dari plastik, piring karya Nunung cukup kuat.
Semakin banyaknya pesanan itu membuat Nunung kian bersemangat memproduksi. Satu piring plastik dibanderol dengan harga Rp 10 ribu. Bagi dia, membuat kerajinan itu bukan kegiatan prioritas. Jadi, jika ada pesanan menumpuk dan berbarengan dengan aktivitas di gereja, Nunung tidak akan menyanggupinya. Apalagi jika ditarget harus selesai dalam waktu dekat. “Kalau mepet dan cepat saya tidak mau. Harus menunggu,” imbuhnya.
Dia mengatakan, walaupun tidak ada pesanan, dirinya akan terus membikin piring plastik selama bahan-bahannya ada. Sebab, semangatnya bukan untuk dikomersialkan, tapi untuk mendaur ulang limbah plastik serta menyalurkan hobinya saja.
Nunung mengaku, kegiatan ini sempat terhenti sementara waktu di awal pandemi lalu. Sebab, sekolah-sekolah meliburkan siswanya sehingga tidak ada sampah gelas plastik bekas minuman yang berserakan. Dia juga sempat membeli limbah gelas plastik kepada para pengepul, karena saat itu pesanan yang datang makin banyak. Apalagi, di saat bersamaan, dirinya juga punya banyak waktu senggang.
Reporter : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona