Tanaman dengan nama latin Amorphophallus muelleri ini dikenal dengan sebutan iles-iles. Jenis tanaman ini bisa tumbuh di sela-sela tanaman perkebunan. Nilainya pun berpotensi menambah penghasilan petani.
Sementara itu, permintaan porang di pasar luar negeri seperti Jepang, Tiongkok, dan Australia masih sangat tinggi. Sedangkan ketersediaan di pasar Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri masih tergolong kurang. Tak heran jika harganya cukup tinggi.
Agus Supriyadi, salah satu warga yang sudah membudidayakan porang sejak 2019 lalu, menuturkan, porang banyak dimanfaatkan untuk bahan baku kosmetik, tepung, mi instan, dan kapsul obat. Selain umbinya, hal yang paling menggiurkan, porang juga menghasilkan biji-biji katak yang dapat ditanam kembali menjadi porang baru. “Satu pohon porang bisa menghasilkan empat hingga enam biji katak dalam jangka waktu tujuh bulan sejak penanaman,” tuturnya.
Di masa pandemi ini, penjualan porang diakuinya sedikit menurun. Hal ini disebabkan pengiriman ke luar negeri dibatasi. Namun, bukan berarti para pengusaha porang lantas gigit jari. “Petani diimbau untuk terus menanam porang,” ujar pria yang juga tergabung dalam Komunitas Porang Jember ini.
Harganya pun cukup menggiurkan. Per kilogram porang dihargai Rp 6 ribu. Jumlah ini sudah dianggap menguntungkan petaninya, sebab modalnya tak sampai setengahnya. “Kalau panen di musim kedua minimal bobotnya 2 kilogram,” tuturnya.
Reporter : Radra Jember
Fotografer : Yuyun Sri Wartini/Radar Jember
Editor : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Ivona