Tak hanya menjadi guru musik, laki-laki yang fanatik dengan sepak bola ini juga seorang musisi di Jember. Seiring berjalannya waktu, karirnya merangkak naik. Undangan untuk manggung pun sering ia terima. Bahkan, Hilmi sempat menerima kontrak kerja sama dengan kafe-kafe besar di Jember. Namun, karirnya mulai mandek sejak pandemi melanda. "Pandemi ini malah tidak ada manggung-manggung lagi," keluhnya.
Hidup masih harus terus berlanjut. Hilmi pun tak mau jadi pengangguran yang tak menghasilkan cuan. Akhirnya, ia memutuskan berbisnis gitar dengan temannya. Ia memilih untuk berbisnis gitar karena dia merasa paham dengan alur dan sirkulasi bisnis gitar.
Berdagang alat musik petik ini mulai dia lakukan sekitar akhir 2020 lalu. Produknya dipasarkan melalui platform digital. Karena itu, konsumennya bukan hanya dari Jember, tapi juga luar kota. Misalnya Banyuwangi, Bondowoso, dan beberapa kabupaten tetangga lainnya. "Bisnis ini tidak ada store-nya. Ini bisnis rumahanku sama temenku," ucap Hilmi.
Dalam perjalanannya, bisnis gitar itu mulai banyak permintaan. Walau tidak langsung banyak, namun secara bertahap pasti ada. Konsumennya beragam. Mulai dari anak-anak sekolah hingga kalangan dewasa. Umumnya, para pembelinya adalah golongan pemula yang hendak belajar bermain gitar. "Alhamdulillah, ada aja yang beli walaupun pandemi," ungkapnya.
Tak hanya melayani jual beli gitar, Hilmi juga kerap memberikan edukasi atau penjelasan tentang penggunaan gitar pada pelanggannya. Sehingga, tak hanya membeli, pelanggan juga dapat berkonsultasi secara leluasa dan bebas dengan penjualnya. Proses konsultasi ini juga berjalan tanpa ada batasan waktu. Artinya, konsultasi tidak hanya dilakukan ketika awal transaksi, tapi juga seterusnya. Ia berharap dapat meluaskan pangsa pasarnya lagi. Bahkan, penjualannya dapat menjangkau kota lain dan lebih luas lagi.
Reporter : Dian Cahyani
Fotografer : Hilmi Hidayatullah For Radar Jember
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona