Seperti yang dialami oleh sejumlah petani di Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember. Aini adalah salah satunya. Dia menyebut, pada musim panen kali ini jarang ada pengepul yang berani menawar kopinya.
Padahal, lanjut dia, biasanya sejak satu bulan sebelum panen raya, para pengepul berdatangan mulai menanyakan hasil panen ke rumah-rumah petani. "Ada satu dua pengepul, tapi main harganya masih rendah," katanya.
Selama ini, sebagai petani yang mengolah kopi hingga proses pengeringan, Aini hanya menggantungkan usahanya pada penjualan kopi kepada pengepul. "Kalau dulu, dijual ke tengkulak. Mereka berani ngasih uang dulu sebelum panen, tapi harganya jauh di bawah harga pasar," ungkapnya.
Selain Aini, Suyitno, petani kopi asal Kecamatan Silo Kabupaten Jember, juga mengalami hal yang sama. Dia mengaku kesulitan menjual hasil panennya. Lantaran tak ada pengepul yang datang ke rumahnya. Untuk mengatasi hal tersebut, Suyitno akhirnya mencoba mengolah hasil panennya menjadi bubuk kopi siap saji dan dijual di toko-toko terdekat. "Nggak ada pilihan lain. Saya coba kemas sendiri karena kebetulan kopi saya nggak begitu banyak. Dan hasilnya lumayan daripada dijual keringnya," tutur ayah dua anak itu.
Berkat keuntungan tersebut, dia ingin memproduksi kopi dengan kemasan yang lebih bagus dan mengikuti gaya kemasan yang sedang tren saat ini. "Mungkin ke depannya akan saya kemas lebih menarik, seperti yang beredar di medsos," paparnya. (del/c2/lin)
Reporter: Delfi Nihayah
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Alvioniza