Pengunjung pasar terbesar di Kabupaten Jember itu sebagian besar memang kaum perempuan. Di lantai dua tersebut mereka banyak yang membeli daging untuk kebutuhan keluarga, karena di lantai atas itu memang khusus untuk lapak daging. Wajar ketika aroma daging begitu menyengat saat angin berembus kuat.
Ketika Jawa Pos Radar Jember melewati tempat tersebut, terlihat sosok laki-laki berperawakan tambun tengah geleng-geleng. Dia mendengarkan lantunan suara artis dangdut koplo Nella Kharisma dari sebuah speaker aktif usang.Tangan pria dewasa itu terlihat cekatan mengupas kelapa, maklum sudah delapan tahun ini ia menekuni pekerjaan itu.
“Silakan duduk, walau tidak membeli kelapa,” sapa pria itu memulai percakapan. Belakangan diketahui, lelaki tersebut bernama Andri Widodo asal Jalan Pangandaran, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari. Kini, dia hijrah mengikuti istri di Jalan Gajahmada, Kaliwates.
Andri sendiri cukup terbuka kepada siapapun kendati orang yang baru dikenal. Ia juga blak-blakan menceritakan kondisinya yang cacat. Tangan kanan dia tidak lagi sempurna setelah 2014 lalu dirinya mengalami kecelakaan ketika sedang berboncengan bersama sang istri.
Namun kejadian itu tidak membuat laki-laki ini kehilangan semangat. Meski memiliki keterbatasan fisik ia tetap mencintai pekerjaan tersebut. Di saat korona melanda, dan hingga kini belum ada kejelasan kapan berakhir, Andri tetap memilih berjualan walau mengurangi jam operasional.
“Pendapatan berkurang drastis apalagi ada aturan PPKM darurat. Mau tidak mau dijalani sambil terus berdoa agar wabah ini segera selesai. Kalau dulu sebelum Covid-19 buka pukul 05.00 dan pulang pukul 15.00. Kini pukul 13.sudah 00 pulang karena pasar sepi,” ungkap Andri.
Saat tidak ada pembeli memilah-milah kelapa, difabel humoris itu memilih mengotak-atik batok kelapa menggunakan pisau. Batok itu dilubangi bagian kiri dan kanan termasuk bagian depan. Kemudian Andri mengambil tali lentur dari karet, lalu dikaitkan pada lubang batok tersebut.
Tidak itu saja, batok itu lantas dihaluskan menggunakan ampelas sehingga tampak rapi. Siapa sangka, bila difabel itu memiliki ide kreatif. Limbah kelapa itu ia sulap menjadi masker. Dan untuk membuat masker tersebut Andri hanya butuh waktu lima belas menit.
“Gampang kok membuat masker ini dan tidak terlalu ribet. Tentu tidak asal membuat masker, namun disesuaikan lebar mulut. Ketika dipakai, masker itu terasa enak dan tidak membuat orang tersiksa,” lanjut Andri.
Ada kisah menarik dialami ketika Andri hendak pulang ke rumah dan memakai masker batok kelapa tersebut. Seorang petugas lalu-lintas meminta ia menepikan motor, sontak dia kaget namun diluar dugaan polisi tersebut mengagumi masker unik itu, dan malah meminta swafoto bersamanya. (*)
Reporter: Winardyasto
Fotografer: Winardyasto
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri