Radar Ijen – Urusan perut anak sekolah tak boleh dibuat main-main, Pemkab Bondowoso perketat rantai pengawasan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah benteng pertahanan ini diambil demi memastikan tak ada lagi celah bagi bahan pangan abal-abal atau hidangan kurang layak yang lolos ke meja makan para siswa.
Langkah preventif tersebut menyasar seluruh alur produksi, mulai dari dapur pemasok hingga proses penyajian di meja pemakan.
Baca Juga: 200 Warga Binaan Lapas Bondowoso Negatif Narkoba, BNNK Lumajang Pastikan Pengawasan Ketat
Seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di bawah teropong pengawasan ketat Satgas MBG Bondowoso enggan mengambil risiko sekecil apapun yang berpotensi memicu masalah kesehatan massal akibat kelalaian standar higienitas.
Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i menegaskan, skema pengawalan ketat ini dibuat agar standar gizi dan keamanan makanan tidak cuma bagus di atas kertas.
Pengawasan di lapangan dipertajam untuk mengunci kualitas bahan baku dari para vendor, terutama kebersihan proses olah di dapur serta ketepatan waktu distribusi.
“Tentu hari ini kegiatannya penguatan koordinasi untuk meningkatkan kualitas mutu MBG yang ada di Kabupaten Bondowoso. Kami mengumpulkan seluruh kepala SPPG kemudian juga melibatkan Satgas yang ada,” tutur As’ad saat ditemui usai memberi arahan langsung kepada para penanggung jawab lapangan, Kemarin (23/9).
Sorotan tajam Pemkab Bondowoso memang berangkat dari sederet catatan evaluasi di lapangan.
Baca Juga: Bahlil Mini Soccer Zona Jember Gelar TM, 16 Tim dari Jember, Bondowoso, dan Lumajang Siap Bersaing
Salah satu titik krusial yang disempritadalah kualitas bahan pangan segar, seperti buah-buahan pendamping menu utama.
Petugas kerap menemukan kualitas buah yang tak seragam, bahkan cenderung kurang segar saat diterima siswa.
Tak cuma soal kesegaran dan rasa, urusan estetika piring makan juga tak luput dari teguran. Pemkab meminta ukuran porsi diseragamkan dan cara penyajian ditata lebih manusiawi serta rapi.
Standardisasi ini dianggap penting untuk menjaga selera makan sekaligus menjamin tiap anak mendapatkan asupan gizi dalam takaran yang sama rata.
"Pada intinya bagaimana MBG ke depan lebih baik lagi, lebih berkualitas lagi,” tegas As'ad singkat.
Sinyal kuat dari orang nomor dua di Bondowoso ini menjadi peringatan keras bagi para pengelola dapur MBG agar tidak sekadar mengejar target kuota, melainkan wajib memprioritaskan keamanan pangan.
Baca Juga: Razia Gabungan Lapas Bondowoso Bongkar Puluhan Sajam dan Korek Api, 200 Warga Binaan Lolos Tes Urine
Dengan pengawasan yang makin rapat dan tidak pandang bulu, Ia berharap program MBG benar-benar menjadi penyokong gizi anak-anak daerah, bukan justru menyisakan masalah di kemudian hari.
“Evaluasi berkala dipastikan bakal terus digelar tanpa pemberitahuan demi menjaga konsistensi mutu di tiap dapur penyedia,” pungkasnya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh