Banjir Informasi di Gadget Bikin Generasi Muda Minim Pemahaman, DPRD Bondowoso Suarakan Alarm Bahaya

Faqih Humaini • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 22:05 WIB
“Kalau hanya mengandalkan gadget, pemahaman itu cepat tapi tidak melekat. Buku tetap menjadi fondasi. Teknologi harus dikendalikan, bukan justru mengendalikan kita.” ABDUL MAJID, Sekretaris Komisi IV DPRD Bondowoso.
“Kalau hanya mengandalkan gadget, pemahaman itu cepat tapi tidak melekat. Buku tetap menjadi fondasi. Teknologi harus dikendalikan, bukan justru mengendalikan kita.” ABDUL MAJID, Sekretaris Komisi IV DPRD Bondowoso.

Radar Ijen – Banjir informasi di layar gadget membuat generasi muda semakin mudah mengetahui berbagai hal. Namun, kemudahan tersebut dinilai belum tentu membuat pemahaman semakin dalam.

Kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat dan singkat justru menjadi tantangan baru dalam membangun generasi yang mampu membaca, memahami, dan berpikir kritis.

Sekretaris Komisi IV DPRD Bondowoso Abdul Majid mengatakan, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan penguatan budaya literasi. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengakses informasi.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Hantam Bondowoso! Produksi Kopi Arabika Anjlok 60 Persen

Mereka juga harus mampu memahami informasi secara utuh serta memiliki bekal pengetahuan yang kuat untuk menghadapi persoalan yang semakin kompleks.

“Kami ingin generasi ke depan ini benar-benar terdidik, berpengetahuan luas, dan siap menghadapi problematika zaman yang semakin kompleks,” tegasnya.

Menurut Majid, gadget sebenarnya memberikan banyak kemudahan. Berbagai informasi bisa diperoleh hanya dalam hitungan detik.

Namun, pola konsumsi informasi yang serba cepat berpotensi membuat seseorang hanya mengetahui permukaan suatu persoalan tanpa memahami konteksnya. 

Karena itu, keberadaan buku dan aktivitas membaca secara mendalam dinilai masih memiliki posisi penting.

Baca Juga: Lapas Bondowoso Kembali Gelar Razia Gabungan, Temukan Puluhan Korek Api Hingga Sajam Rakitan Disita

“Kalau hanya mengandalkan gadget, pemahaman itu cepat tapi tidak melekat. Buku tetap menjadi fondasi. Teknologi harus dikendalikan, bukan justru mengendalikan kita,” ujarnya.

Persoalan tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu dijawab melalui Gerakan Literasi Daerah yang digelar sejak awal pekan. Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah komunitas membaca dan mendapat partisipasi cukup tinggi dari masyarakat.

Bagi Majid, antusiasme tersebut menunjukkan bahwa budaya membaca masih memiliki ruang untuk tumbuh apabila mendapat dukungan dan fasilitas yang memadai.

Penguatan literasi, lanjut dia, juga tidak bisa dilakukan dengan pola yang sama di setiap wilayah. Masyarakat yang berada di sekitar fasilitas perpustakaan dapat memaksimalkan layanan yang tersedia. 

Sementara wilayah yang jauh dari pusat layanan membutuhkan pendekatan berbeda, seperti perpustakaan keliling atau layanan jemput bola agar akses terhadap bahan bacaan tidak hanya terpusat di kawasan tertentu.

Majid menegaskan, persoalan literasi bukan semata tanggung jawab Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip).

Dinas Pendidikan maupun perangkat daerah lainnya perlu mengambil peran untuk membangun kebiasaan membaca sejak usia sekolah. Sebab, kualitas literasi turut menentukan kemampuan generasi dalam menyerap pengetahuan dan menghadapi derasnya perubahan informasi. 

“Literasi ini tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab Perpusip. Semua pihak harus ikut bergerak. Jangan sampai generasi kita hanya cepat mendapatkan informasi, tetapi lemah dalam memahami,” pungkasnya. (faq/bud)

Editor : Imron Hidayatullahh
informasi digital DPRD Bondowoso literasi digital literasi