Radar Ijen – Musim panen 2026 menjadi periode berat bagi petani kopi arabika Bondowoso.
Curah hujan yang tinggi saat tanaman memasuki fase pembungaan membuat produksi di sejumlah kebun merosot hingga 60 persen.
Penurunan hasil tersebut terjadi bukan karena berkurangnya lahan maupun permintaan pasar, melainkan akibat kondisi cuaca yang mengganggu proses pembentukan buah kopi.
Baca Juga: Lapas Bondowoso Kembali Gelar Razia Gabungan, Temukan Puluhan Korek Api Hingga Sajam Rakitan Disita
Owner Coffee Java Ijen Raung Bondowoso, Andi Wijaya, mengatakan hujan pada awal masa pembungaan berdampak cukup besar terhadap kondisi tanaman.
Bunga kopi yang seharusnya menjadi awal pembentukan buah tidak berkembang optimal.
“Produksi turun sekitar 50 sampai 60 persen karena hujan terjadi saat awal pembungaan. Jadi kondisi kebun arabika tahun ini tidak selebat tahun lalu,” ujarnya, kemarin (29/7).
Dampak cuaca tersebut terlihat dari hasil panen di tingkat kebun. Salah satu kebun milik Andi yang pada musim sebelumnya mampu menghasilkan sekitar 25 ton kopi, tahun ini hanya menghasilkan sekitar 10 ton.
Artinya, hasil dari kebun tersebut berkurang lebih dari separuh hanya dalam satu musim panen. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah sentra kopi arabika di Bondowoso.
Baca Juga: Dua Alat Las Hangus Terbakar, Bengkel di Maesan Bondowoso Mengalami Kebakaran
Menurut Andi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa produktivitas kopi arabika sangat bergantung pada pola cuaca sejak tanaman memasuki fase pembungaan.
Ketika hujan turun pada waktu yang tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman, proses pembentukan buah dapat terganggu.
Dampaknya baru benar-benar terlihat ketika memasuki masa panen, saat jumlah buah yang dipetik jauh lebih sedikit dibandingkan musim sebelumnya.
Meski hasil kebun menurun, harga kopi di tingkat petani justru bergerak naik.
Cherry kopi saat ini berada di kisaran Rp22 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram, meningkat sekitar Rp2 ribu sampai Rp3 ribu dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk cherry yang memenuhi standar specialty dengan tingkat petik merah sekitar 95 persen, harga dapat mencapai Rp25 ribu hingga Rp26 ribu per kilogram.
Di sisi lain, permintaan terhadap kopi arabika Bondowoso masih cukup tinggi. Ijen Raung Coffee diperkirakan menyerap sekitar 300–400 ton cherry selama musim panen untuk diolah menjadi sekitar 80 ton green bean.
Kopi tersebut kemudian dipasarkan ke dalam negeri maupun melalui jalur ekspor. Beberapa negara tujuan antara lain Rusia, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang.
Baca Juga: Truk Nakal Nekat Menerobos, Jembatan Koncer Bondowoso Kembali Berlubang di Titik Baru
“Pasar bukan menurun, justru semakin berkembang. Banyak buyer baru dari dalam dan luar negeri yang mulai bekerja sama,” imbuh Andi.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan produksi kopi arabika Bondowoso. Di satu sisi, permintaan dan nilai jual masih terbuka.
Namun di sisi lain, hasil kebun sangat rentan terhadap perubahan pola cuaca.
Penurunan produksi hingga 60 persen pada musim ini menjadi gambaran bahwa menjaga produktivitas kopi tidak cukup hanya dengan memperhatikan pasar, tetapi juga membutuhkan kemampuan petani menghadapi perubahan kondisi iklim di setiap fase pertumbuhan tanaman. (faq/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh