Radar Ijen - Sehat bukan sekadar terbebas dari penyakit. Di balik tubuh yang sehat, ada kualitas sumber daya manusia yang ikut menentukan masa depan sebuah daerah.
Karena itu, upaya mencegah dan mengendalikan penyakit menjadi bagian penting dalam pembangunan.
Di Bondowoso, tugas tersebut salah satunya berada di pundak Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P).
Baca Juga: Cegah Pengendara Tergelincir, Polsek Wringin Respons Cepat Tumpahan Solar di Jalan
Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bondowoso, Solikin, mengatakan P2P memiliki peran strategis.
Bidang tersebut mengampu enam dari 12 Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
“Bidang P2P ini memiliki peran yang sangat strategis karena mengampu enam dari dua belas Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan,” ujarnya.
Enam layanan itu menyasar terduga tuberkulosis (TB), penderita HIV, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), diabetes melitus, hipertensi, serta kelompok usia produktif.
Tugas P2P juga tidak berhenti pada pelayanan. Koordinasi imunisasi, surveilans kesehatan, serta pengendalian penyakit menular dan tidak menular menjadi bagian dari tanggung jawabnya.
Solikin mengapresiasi jajaran puskesmas dan pengelola program P2P yang terus memberikan pelayanan.
Baca Juga: Armada Tua Keluaran 1987 Jadi Beban, Damkar Bondowoso Krisis Personel, APD, hingga Alat Pernapasan
Namun, jalan menuju pengendalian penyakit masih menyisakan tantangan. Salah satunya datang dari sebagian masyarakat yang masih menolak sejumlah program kesehatan.
“Kalau kita cermati, salah satu kendala yang masih dihadapi adalah adanya penolakan dari sebagian masyarakat terhadap beberapa program kesehatan,” ujarnya.
Penolakan tersebut menjadi pengingat bahwa pengendalian penyakit tidak cukup hanya mengandalkan tenaga kesehatan.
Dibutuhkan kerja bersama lintas program dan lintas sektor agar masyarakat semakin memahami pentingnya pencegahan.
Sebab, penyakit yang berhasil dicegah hari ini berarti risiko yang lebih kecil bagi kesehatan masyarakat di kemudian hari. (ham/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh