Beda Keyakinan Tetap Bersahabat, Kepala Kejari Bondowoso Ingatkan Bijak Bermedsos

Faqih Humaini • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 19:51 WIB
Dr. David Palapa Duarsa (tengah) saat bersama sejumlah pihak dalam agenda pembinaan moderasi beragama (Kejari Bondowoso)
Dr. David Palapa Duarsa (tengah) saat bersama sejumlah pihak dalam agenda pembinaan moderasi beragama (Kejari Bondowoso)

 

BONDOWOSO, Radar Jember – Perbedaan keyakinan, pendapat, maupun latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Pesan tersebut disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Bondowoso Dr. David Palapa Duarsa, saat memberikan pembinaan moderasi beragama kepada 60 siswa SMP/MTs se-Kabupaten Bondowoso di Aula SMA Negeri 2 Bondowoso, Kamis (10/9).

David menekankan, moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama atau menganggap seluruh agama sama. Sebaliknya, sikap tersebut harus diwujudkan dengan tetap teguh terhadap keyakinan masing-masing, tetapi mampu menghormati pemeluk agama lain, tidak memaksakan keyakinan, serta menjaga persatuan.

 “Kita boleh berbeda dalam keyakinan, tradisi, budaya, bahasa, dan pendapat, namun kita sama dalam kemanusiaan, kebangsaan, pendidikan, cita-cita, dan persahabatan,” katanya.

Baca Juga: Kajari Bondowoso Proaktif Selaraskan 35 Perda dengan KUHP Nasional, Antisipasi Risiko Hukum

Menurutnya, pemahaman tersebut penting ditanamkan sejak bangku sekolah. Sebab, perbedaan yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi saling mengejek, bullying, provokasi, hingga ancaman dan kekerasan. Karena itu, David mengingatkan para pelajar agar tidak menjadikan perbedaan sebagai pemicu konflik.

“Jangan biarkan perbedaan berubah menjadi bullying atau bahkan pelanggaran hukum,” tegasnya.

 Baca Juga: Harlah Kejaksaan ke-81, Kejari Bondowoso Tekankan Integritas, Keadilan, dan Pendekatan Humanis 

Dr. David juga mengaitkan moderasi beragama dengan kesadaran hukum para generasi muda. Dia meminta pelajar mulai mengenali batas-batas perilaku yang dapat berujung persoalan hukum, termasuk bullying, tawuran, mengancam orang lain, merusak fasilitas umum, menghina agama atau kelompok tertentu, hingga menyebarkan konten provokatif. Menurutnya, taat hukum bukan hanya tanggung jawab orang dewasa, tetapi harus dibiasakan sejak usia sekolah.

Baca Juga: Spesialis Pengamanan dan Penyelamatan Aset, David Palapa Duarsa Nahkodai Kejari Bondowoso, Punya Karakter Turun Langsung ke Lapangan

Selain di lingkungan sekolah, Dr. David mengingatkan para siswa agar berhati-hati menggunakan media sosial. Setiap unggahan, komentar, maupun informasi yang dibagikan harus dipikirkan dampaknya terlebih dahulu.

 “Jempolmu tanggung jawabmu. Sebelum posting, comment, dan share, berhenti sejenak untuk mengecek kebenaran informasi, pikirkan akibatnya, dan hanya sebarkan informasi yang benar serta bermanfaat,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Bondowoso  Fathur Rozi, mengatakan, pembinaan moderasi beragama penting untuk menjaga keharmonisan masyarakat.

Pemahaman agama yang baik dan benar, menurut dia, menjadi salah satu fondasi agar perbedaan tidak berkembang menjadi persoalan di tengah masyarakat.

“Kegiatan ini sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan kebaikan yang diawali dengan pemahaman yang baik dan benar tentang bagaimana kita menjalankan agama,” katanya.

Fathur menambahkan, para pelajar yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan calon pemimpin Bondowoso pada masa mendatang. Karena itu, nilai toleransi perlu ditanamkan sejak sekarang dan tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

“Bondowoso 20 tahun lagi akan dipimpin dan dibangun oleh para siswa saat ini. Jangan sampai kegiatan hari ini berhenti di sini, tetapi bisa merangkul lebih banyak siswa,” pungkasnya. (faq)

 

 

 

 

 

 

Editor : Faqih Humaini
david palapa Pemkab Bondowoso kejari bondowoso Kajari Bondowoso Bondowoso