BONDOWOSO, Radar Jember – Musim tembakau membawa rezeki bukan hanya bagi petani. Di tingkat pengolahan, komoditas tersebut juga menjadi sumber penghasilan bagi puluhan warga.
Sekali menjalankan proses produksi, pengelola hasil tembakau lokal Bambang Hartono melibatkan sekitar 30 pekerja untuk menangani berbagai tahapan hingga tembakau siap dipasarkan.
Tenaga kerja tersebut dibutuhkan sejak proses panen, mered atau pengolahan awal, memasak, hingga penjemuran. Bambang mengatakan, keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam menjalankan usahanya.
“Dengan modal segitu, kita melibatkan sekitar 30 orang, mulai dari proses panen, kalau istilah Madura itu mered, sampai nanti proses memasak, kemudian dijemur,” katanya.
Baca Juga: Beda Pandangan di P-APBD Kabupaten Bondowoso, PKB Ingatkan Jangan Terjebak Pertentangan Politik
Bambang menjelaskan, penyerapan tenaga kerja tersebut berlangsung setiap kali dirinya melakukan proses pengolahan. Modal sekitar Rp150 juta yang disiapkan untuk membeli bahan baku juga belum mencakup biaya tenaga kerja. Artinya, aktivitas pengolahan tembakau turut menciptakan perputaran ekonomi bagi warga yang terlibat di dalamnya.
Dalam satu kali proses, pengolahan sekitar satu ton tembakau membutuhkan waktu beberapa hari. Tahap panen saja bisa berlangsung kurang lebih empat hari. Setelah itu, tembakau masih harus melewati proses pengolahan dan pemasakan sebelum akhirnya dijemur. Tembakau yang belum cukup matang bahkan harus disimpan terlebih dahulu hingga kondisinya siap diproses.
“Kalau belum cukup matang, nanti ditaruh lagi sambil menunggu proses memasaknya. Menunggu sampai warnanya kuning,” jelas Bambang.
Baca Juga: Dekopinda Dikukuhkan, Koperasi Bondowoso Didorong Berbenah,
Nilai komoditas yang cukup tinggi membuat mata rantai pengolahan tersebut tetap berjalan. Saat sudah kering, harga tembakau berada di kisaran Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram. Dari setiap satu ton tembakau, Bambang memperkirakan sekitar Rp5 juta dapat berputar untuk kebutuhan tenaga kerja yang terlibat dalam proses pengolahan.
Kelancaran produksi juga sangat bergantung pada kondisi cuaca. Sebab, proses penjemuran membutuhkan paparan matahari yang cukup. Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi tersebut dinilai cukup menguntungkan karena hujan relatif minim.
“Sekarang alhamdulillah cuacanya bagus. Selama beberapa bulan tidak ada hujan, jadi cuaca sangat mendukung,” ujarnya.
Baca Juga: Harlah Kejaksaan ke-81, Kejari Bondowoso Tekankan Integritas, Keadilan, dan Pendekatan Humanis
Karena menyerap tenaga kerja cukup banyak, Bambang berharap aktivitas pengolahan tembakau lokal tetap mendapat ruang. Dia meminta setiap kebijakan terkait komoditas tersebut mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat yang berada di bawah. Menurutnya, keberlangsungan usaha pengolahan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut penghasilan puluhan warga yang ikut bekerja.
“Harapan saya kepada pemerintah, aturan itu mungkin dikaji lagi. Karena ini sangat bersentuhan langsung dengan masyarakat di bawah,” pungkasnya. (faq)
Editor : Faqih Humaini