SEKARPUTIH, Radar Ijen - Sebanyak 150 Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) jenjang TK, SD, SMP hingga SMA/SMK se-Kabupaten Bondowoso mengikuti PAI Berziarah 2026 di Makam Raden Bagus Asra atau Ki Ronggo, Rabu (9/9).
Ziarah tidak sekadar menjadi agenda mengenang tokoh sejarah. Para guru diajak meneladani perjuangan, pengabdian, dan keteguhan Raden Bagus Asra dalam membangun Bondowoso.
Kepala Kemenag Bondowoso Moh Ali Masyhur mengingatkan, usia dan jabatan memiliki batas. Namun, kebaikan serta pengabdian yang dilakukan dengan tulus akan terus dikenang.
“Pada waktunya, usia akan berhenti dan jabatan juga akan berakhir. Yang kemudian tetap dikenang adalah kebaikan dan pengabdian yang kita tinggalkan selama menjalankan amanah,” ungkapnya.
Baca Juga: Turnamen Mini Soccer Piala Bupati Bondowoso 2026 Berakhir, SDN Tamansari 1 Keluar Sebagai Jawara
Menurutnya, pesan tersebut relevan dengan peran guru PAI. Sebab, tugas guru tidak sebatas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga membentuk karakter peserta didik.
“Guru PAI memiliki peran yang luar biasa. Tugasnya bukan hanya membantu menyiapkan masa depan anak-anak, tetapi juga membangun karakter dan menyiapkan generasi yang memiliki bekal lahir maupun batin,” ujarnya.
Dia juga mengapresiasi dedikasi guru PAI dalam membangun pendidikan dan kehidupan masyarakat. “Kami bangga dapat membersamai guru-guru PAI. Semoga setiap langkah dan pengabdian yang dilakukan mendapat ridha dari Allah SWT,” harapnya.
Baca Juga: Megawati vs Bukilic di KOVO Cup 2026: Adu Mekanik Dua Juru Gedor Papan Atas V-League
Momentum ziarah sekaligus menjadi sarana mengenal perjalanan Raden Bagus Asra yang dikenal sebagai Ki Ronggo. Berdasarkan kisah yang disampaikan keturunan kelimanya, perjalanan Raden Bagus Asra bermula dari Pamekasan, Madura.
Saat Perang Kelesap pada 1743, Raden Bagus Asra yang masih berusia enam tahun dibawa keluarganya menyeberang ke Pulau Jawa. Di Besuki, ia bertemu Kiai Patih Alus yang memberikan pendidikan sekaligus membentuk jiwa kepemimpinannya.
Setelah dewasa, Raden Bagus Asra diangkat sebagai anak Bupati Besuki Suroadikusumo dan dipercaya menjalankan sejumlah tugas pemerintahan.
Pada 1789, ia mendapat amanah membuka wilayah baru di kawasan selatan Besuki. Dengan bekal dua ikat jagung dan seekor kerbau bule bernama Si Melati, perjalanan tersebut membawanya ke wilayah yang kini menjadi pusat Kabupaten Bondowoso.
Di lokasi tersebut, Si Melati berhenti dan tidak melanjutkan perjalanan. Peristiwa itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan Raden Bagus Asra dalam membangun permukiman dan pemerintahan baru. Ia juga mendirikan Masjid At-Taqwa pada 1809.
Setelah menjalani tirakat dan puasa selama 41 hari, Raden Bagus Asra memperoleh petunjuk spiritual yang berkaitan dengan angka 17. Ia kemudian dilantik sebagai penguasa wilayah pada 17 Agustus 1819, yang hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Bondowoso.
Kisah tersebut menjadi pengingat tentang nilai perjuangan, kepemimpinan, keteguhan, dan pengabdian yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca Juga: Bikin Haru! Lewat Inovasi Next Step, Siswa SMKN 3 Bondowoso Transformasi Mimpi Masa Depan Di Hadapan
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penanaman pohon di sekitar kawasan makam. Penanaman tersebut menjadi simbol bahwa kebaikan tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus ditanam dan dirawat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Nilai itu dinilai sejalan dengan tugas guru. Seperti pohon yang ditanam untuk tumbuh dan memberi manfaat, ilmu dan karakter yang ditanamkan guru diharapkan menjadi bekal bagi peserta didik di masa depan.
Melalui PAI Berziarah 2026, para guru diajak tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga memperkuat semangat pengabdian, kepedulian terhadap lingkungan, serta tekad meninggalkan kebaikan bagi generasi berikutnya. (ham)
Editor : Ilham Wahyudi