RADAR JEMBER – Gunung Piramid di Kecamatan Curahdami, Bondowoso, Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu gunung dengan jalur pendakian paling menantang di Indonesia.
Medannya yang sempit, dipenuhi tebing curam, serta jalur punggungan yang dikenal sebagai "Punggung Naga" membuat gunung setinggi sekitar 1.521 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini kerap memakan korban jiwa.
Insiden terbaru terjadi pada awal Agustus 2026 ketika dua pendaki ditemukan meninggal dunia setelah dilaporkan hilang saat melakukan pendakian.
Baca Juga: Fakta dari Tragedi Dua Pendaki yang Jatuh dari Gunung Piramid Bondowoso: Empat Jam Turunkan Jenazah
Berikut profil singkat para korban.
1. Maliya Finda (51)
Maliya Finda merupakan pendaki asal Wonokromo, Surabaya. Ia mendaki Gunung Piramid bersama seorang pemandu lokal pada Minggu (2/8/2026).
Setelah dinyatakan hilang selama dua hari, tim SAR gabungan menemukan jasadnya di lereng curam sekitar 60–70 meter di bawah jalur pendakian.
Menurut informasi dari petugas, Maliya dikenal memiliki minat terhadap aktivitas pendakian.
Namun jalur ekstrem Gunung Piramid diduga menjadi faktor utama yang menyebabkan kecelakaan tersebut.
Baca Juga: Ini Kronologi Waktu Lengkapnya Dua Pendaki Jatuh di Tebing Puncak Piramid Bondowoso
2. Irfan Nasrul Laili (35)
Irfan Nasrul Laili merupakan pemandu (guide) lokal asal Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso.
Ia mendampingi Maliya selama pendakian menuju puncak Gunung Piramid.
Sebagai warga lokal, Irfan telah mengenal karakter jalur Gunung Piramid.
Namun dalam insiden tersebut ia turut ditemukan meninggal dunia tidak jauh dari posisi Maliya.
Dugaan sementara, keduanya terjatuh secara bersamaan saat melintasi jalur yang curam.
Di lokasi penemuan korban, Ketua Tim SAR Basarnas, Jefri, menyampaikan dugaan awal mengenai penyebab kecelakaan.
"Dugaan kami keduanya jatuh secara berbarengan. Mungkin saat keduanya saling berpegangan, lalu jatuh bareng." Ujar Jefri, pada 4 Agustus 2026
Jefri menambahkan bahwa penyebab pasti kematian tetap menunggu hasil pemeriksaan medis.
"Kondisi korban saat ditemukan memang ada luka. Namun mungkin karena dampak jatuh tersebut." Tambahnya.
Peristiwa tersebut kembali mengingatkan para pendaki bahwa Gunung Piramid bukanlah jalur yang dapat disepelekan.
Medan berupa punggungan sempit, tebing dengan kemiringan tajam, serta kabut yang kerap turun secara tiba-tiba membuat setiap pendaki dituntut memiliki pengalaman, perlengkapan memadai, dan kondisi cuaca yang mendukung sebelum melakukan pendakian.
Penulis: Mochammad Feriel Alfaritzy
Editor : M. Ainul Budi