BADEAN, Radar Ijen – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Bondowoso–Situbondo masih membayangi saat musim kemarau. Hampir seluruh kejadian kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, bukan faktor alam. Kondisi ini membuat sejumlah kawasan hutan, seperti Blawan dan Arak-Arak, masuk kategori rawan dan mendapat perhatian khusus.
Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, menegaskan bahwa faktor manusia menjadi penyebab dominan karhutla di wilayah kerjanya. “Hampir pasti karena aktivitas manusia, baik puntung rokok maupun orang yang membakar sesuatu di pinggir jalan. Kalau faktor alam seperti gesekan pohon atau batu, persentasenya sangat kecil,” ujarnya, kemarin (3/8).
Baca Juga: Karyawan KSP di Bondowoso Ini Selama Lima Tahun Gelapkan Rp 237 Juta Uang Nasabah
Munir menyebut kawasan hutan Arak-Arak di Desa Gunung Malang, Kecamatan Suboh, Situbondo, menjadi salah satu titik yang kerap terjadi kebakaran. Selain itu, kawasan Blawan di Kecamatan Ijen, Bondowoso, juga tergolong rawan. Meski demikian, ia bersyukur selama dua tahun terakhir belum terjadi kebakaran besar di wilayah tersebut.
Menurutnya, kondisi musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino membuat suhu udara meningkat signifikan. Hal itu menyebabkan daun-daun jati berguguran dan menumpuk di lantai hutan. Tumpukan daun kering tersebut menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar jika terkena percikan api kecil sekalipun. “Cuaca sekarang sangat panas. Daun jati kering itu sangat mudah terbakar. Orang membuang puntung rokok sembarangan atau membuat api lalu ditinggalkan saja sudah bisa memicu kebakaran,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan, waktu paling rawan terjadinya kebakaran justru pada sore hingga dini hari. Berdasarkan pengalaman di lapangan, kebakaran lebih sering terjadi sekitar pukul 17.00 WIB hingga subuh, sementara siang hari relatif lebih jarang terjadi.
Untuk menekan risiko, Perhutani telah memasang berbagai papan peringatan di kawasan hutan serta menggandeng pemerintah desa melalui pembentukan Masyarakat Peduli Api. Kelompok ini dilibatkan dalam deteksi dini, pelaporan, hingga membantu pemadaman bersama BPBD saat terjadi kebakaran.
Selain itu, Munir mengingatkan wisatawan, khususnya di kawasan Blawan, agar memastikan api unggun benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi. Ia juga menegaskan agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas. “Ada juga kasus yang sengaja dilakukan oknum atau bahkan ODGJ. Karena itu, kami mengajak semua pihak bersama-sama menjaga hutan,” pungkasnya. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi