Tembus Pasar JFC Dan BEC! Kreativitas Perajin Bondowoso Ini Banjir Ratusan Pesanan Ornamen Karnaval

Faqih Humaini • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 08:00 WIB
FINISHING: Andriyanto saat mengecat properti untuk kebutuhan karnaval di rumahnya. (FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)
FINISHING: Andriyanto saat mengecat properti untuk kebutuhan karnaval di rumahnya. (FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)

Radar Jember – Di balik gemerlap karnaval yang memukau pada momen agustusan, ada tangan-tangan kreatif dari desa yang bekerja tanpa henti, merangkai warna, menyulam imajinasi, dan menghidupkan semangat Nusantara. Salah satunya dari Desa/Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Bondowoso.

Suara kompresor berbunyi, tak lama kemudian, ada seorang laki-laki yang mencoba keakuratan nozzle cat di tembok yang terbuat dari bambu. Dirasa tepat, pekerjaan mengecat pun dimulai.

Cat hitam legam itu mulai disemprotkan ke ornamen-ornamen ukiran gaya Bali, Jawa, hingga Madura.

“Kalau ukiran gaya Madura warnanya lebih tegas, ada kombinasi warna merahnya. Kalau Bali lebih banyak warna emas. Ukiran dari spons ini bukan untuk penghias rumah, tapi untuk ornamen karnavalan,” ucap Andriyanto.

Baca Juga: DPRD Bondowoso Desak Jalur Pendakian Gunung Piramid Ditutup: Kalau Tidak, Tinggal Menunggu Korban Berikutnya!

Pria 35 tahun ini pemilik home industry Ijen Kreatif. Pada momen agustusan, ia nyaris tak memiliki waktu luang. Pesanan datang bertubi-tubi. Dari mahkota kepala, ornamen pundak, hingga hiasan dada, semua harus rampung tepat waktu.

“Menjelang Agustus ini permintaan meningkat cukup tinggi karena banyak daerah mulai mempersiapkan kegiatan karnaval dan pawai kemerdekaan,” ujarnya, sembari tetap fokus merangkai detail ornamen di tangannya.

Tak hanya Bondowoso, pesanan justru banyak berdatangan dari luar daerah. Nama Jember dengan Jember Fashion Carnaval (JFC) sudah tak asing baginya.

Begitu pula Banyuwangi melalui Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), hingga Kota Semarang. Dari kota-kota itu, kreativitas Andriyanto ikut berkontribusi menghias panggung-panggung jalanan yang megah.

Baca Juga: Sosok Irfan Nasrul Laili, Guide Lokal Bondowoso yang Mengakhiri Perjalanan Terakhir di Gunung Piramid

Hingga Juli 2026, Ijen Kreatif mencatat telah mengirimkan 268 produk kepada 198 pembeli. Rata-rata setiap transaksi berada di angka Rp 300 ribu.

Namun, tak jarang pesanan datang dalam jumlah besar, terutama dari komunitas atau penyelenggara karnaval yang membutuhkan ornamen dalam skala lebih luas.

Di balik angka-angka itu, ada cerita lain yang tak kalah berarti. Aktivitas produksi yang meningkat membawa dampak bagi lingkungan sekitar.

Beberapa perajin turut dilibatkan untuk membantu proses pengerjaan. Dari memotong bahan, merangkai, hingga finishing, semua dikerjakan secara gotong royong.

Suasana bengkel kerja sederhana itu pun terasa hidup. Suara gunting, lem, dan obrolan ringan bercampur menjadi harmoni khas industri rumahan. Setiap ornamen yang selesai bukan sekadar produk, melainkan bagian dari semangat perayaan kemerdekaan.

Bagi Andriyanto, momen Agustus bukan hanya soal meningkatnya omzet. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa kreativitas dari desa mampu menembus panggung nasional.

Baca Juga: Jalur Pendakian Gunung Piramid Bondowoso Dikenal Ekstrem, Terkenal dengan Punggung Naganya

Bahwa dari ruang sederhana di Kecamatan Jambesari Darus Sholah, karya-karya bisa menjelajah hingga berbagai daerah.

Ia pun berharap tren positif ini terus berlanjut. Industri kreatif lokal, menurutnya, memiliki potensi besar jika terus didukung dan dikembangkan. Terlebih, kebutuhan akan ornamen karnaval semakin meningkat seiring berkembangnya event budaya di berbagai daerah.

“Harapannya ke depan Bondowoso bisa semakin dikenal sebagai salah satu pemasok ornamen karnaval. Bukan hanya ikut meramaikan, tapi juga menjadi bagian penting dari setiap perayaan,” pungkasnya. (dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
BEC agustusan karnaval JFC Bondowoso