Radar Jember - Gunung Piramid, Bondowoso, Jawa Timur, kembali diguncang tragedi maut. Tambahan kasus terbaru ini menggenapkan total korban jiwa yang merenggut nyawa pendaki di gunung tersebut menjadi empat orang.
Insiden teranyar melibatkan dua orang pendaki yang sempat dilaporkan hilang selama tiga hari sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Menanggapi kejadian berulang ini, Wakil Ketua DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajad, mendesak pemerintah agar segera menutup sementara jalur pendakian Gunung Piramid hingga sistem keselamatan dibenahi secara total.
Menurut Sinung, tragedi ini menjadi sinyal kuat bahwa pengelolaan wisata pendakian ekstrem di jalur tersebut tidak bisa lagi memakai pola lama. Evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan harus segera dilakukan.
"Yang pertama harus dilakukan adalah menutup sementara dan melarang pendakian. Setelah itu pemerintah desa, kecamatan, kabupaten bersama Dinas Pariwisata harus menyiapkan sistem yang benar," kata Sinung, Rabu (5/8/2026).
Pernyataan tersebut dilontarkan usai operasi pencarian dua pendaki yang hilang berakhir duka. Tim SAR gabungan berhasil menemukan kedua korban dalam kondisi meninggal dunia di kawasan Punggung Naga pada kedalaman sekitar 60 meter, Selasa (4/8/2026).
Jasad kedua korban ditemukan terpisah dengan jarak sekitar lima meter. Identitas korban diketahui bernama Maliya Finda (51), warga asal Surabaya, serta Irfan Nasrul Laili (34), seorang pemandu pendakian dari Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso.
Baca Juga: Jalur Pendakian Gunung Piramid Bondowoso Dikenal Ekstrem, Terkenal dengan Punggung Naganya
Dorong Sertifikasi Pemandu dan Pengelolaan Ekowisata Premium
Sinung menegaskan bahwa opsi penutupan jalur sama sekali tidak bertujuan untuk mematikan sektor pariwisata daerah. Langkah tersebut murni dibutuhkan agar pemerintah memiliki ruang untuk membangun sistem pendakian yang teruji aman, profesional, dan berstandar nasional.
Sebagai solusi, ia mengusulkan agar pemerintah menyeleksi pemuda lokal untuk diberi pendidikan serta pelatihan dari organisasi pencinta alam profesional, seperti Wanadri maupun lembaga sejenis. Usai mengantongi sertifikasi, para pemuda ini dapat diterjunkan sebagai pemandu resmi Gunung Piramid.
"Setiap wisatawan yang ingin mendaki Gunung Piramid wajib didampingi guide yang sudah terlatih dan bersertifikat. Kalau belum ada guide profesional, jangan diizinkan mendaki," tegas Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso tersebut.
Ia menambahkan, keberadaan pemandu bersertifikat tak sekadar mengarahkan rute pendakian, tetapi juga dibekali pertolongan pertama dan kemampuan penanganan darurat jika terjadi kecelakaan di medan ekstrem.
Selain penataan sumber daya manusia (SDM), Sinung juga mendorong pemerintah desa setempat untuk mengembangkannya menjadi destinasi ekowisata premium, bukan sekadar wisata massal. Pengembangan ini mencakup fasilitas penunjang seperti persewaan tenda, peralatan pendakian, hingga area perkemahan (camping ground).
Baca Juga: Mitos Gunung Piramid Bondowoso, Kisah Pantangan hingga Penunggu yang Masih Dipercaya Warga
"Kalau konsep ini dijalankan, semua pihak akan diuntungkan. Wisatawan merasa aman, pemerintah desa memperoleh pendapatan, pemerintah kabupaten mendapat PAD, bahkan jika bekerja sama dengan Perhutani semua bisa sama-sama mendapatkan manfaat," ujarnya.
Peringatan Keras agar Tak Tunggu Korban Berikutnya
Sinung mengungkapkan bahwa gagasan pengelolaan berbasis keselamatan ini sebenarnya bukan hal baru. Ia mengaku sudah menyuarakan wacana serupa sejak insiden maut yang menewaskan almarhum Thorik, beberapa waktu lalu. Konsep ini bahkan diklaim telah mengantongi dukungan dari berbagai komunitas SAR.
"Sudah beberapa kali saya sampaikan. Program ini sebenarnya low cost, tidak membutuhkan biaya besar. Banyak pihak yang bisa diajak bekerja sama untuk melatih pemuda setempat menjadi guide profesional. Tinggal ada niat atau tidak," katanya.
Mengingat minat masyarakat terhadap aktivitas pendakian gunung terus meningkat tiap tahunnya, Sinung menilai sekadar memberlakukan larangan tanpa pembenahan tata kelola hanya akan memicu maraknya aksi pendakian ilegal.
"Setelah semuanya siap, baru dibuka kembali dengan standar keselamatan yang jelas. Kalau tidak, kita hanya tinggal menunggu korban-korban berikutnya," pungkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh