RADAR JEMBER - Di balik bentuknya yang menyerupai piramida dan jalur pendakian yang menantang, Gunung Piramid di Kabupaten Bondowoso menyimpan berbagai cerita mistis yang telah hidup di tengah masyarakat selama bertahun-tahun.
Beragam mitos tersebut terus diceritakan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari budaya lokal, meski belum pernah terbukti secara ilmiah.
Salah satu mitos yang paling dikenal adalah larangan membawa pulang benda apa pun dari kawasan Gunung Piramid.
Masyarakat setempat meyakini bahwa batu, tanaman, atau benda lain yang diambil dari gunung dapat membawa kesialan bagi orang yang membawanya. Konon, pendaki yang mengabaikan pantangan tersebut dipercaya akan mengalami gangguan, tersesat, atau mendapat musibah hingga benda tersebut dikembalikan ke tempat asalnya.
Selain itu, Gunung Piramid juga diyakini memiliki sosok penunggu yang menjaga kawasan pegunungan.
Sebagian warga percaya bahwa makhluk gaib tersebut tidak akan mengganggu pendaki yang datang dengan niat baik dan menjaga sikap.
Sebaliknya, mereka yang bersikap sombong, merusak alam, atau berkata-kata kasar diyakini dapat mengalami pengalaman yang tidak biasa selama berada di gunung.
Mitos lain yang masih sering diceritakan adalah larangan menyebut nama makhluk halus atau berbicara sembarangan ketika mendaki.
Baca Juga: Tragedi Berulang di Piramid, DPRD Dorong Pengelolaan Wisata Ekstrem Berbasis Ecotourism
Pendaki dianjurkan menjaga tutur kata, tidak berteriak tanpa alasan, serta menghormati lingkungan sekitar.
Kepercayaan ini dipandang sebagai cara masyarakat mengajarkan etika saat berada di alam terbuka sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian kawasan pegunungan.
Sebagian warga juga mempercayai adanya waktu-waktu tertentu yang dianggap kurang baik untuk mendaki, seperti malam Jumat atau malam satu Suro dalam penanggalan Jawa.
Meski tidak ada bukti ilmiah yang mendukung kepercayaan tersebut, sejumlah pendaki memilih menghormatinya sebagai bentuk penghargaan terhadap adat dan tradisi masyarakat setempat.
Budayawan dan pegiat pelestarian budaya menilai bahwa mitos-mitos tersebut merupakan bagian dari folklor yang berkembang di masyarakat.
Terlepas dari benar atau tidaknya secara supranatural, cerita-cerita tersebut memiliki fungsi sosial sebagai pengingat agar manusia menjaga sikap, tidak merusak alam, dan selalu mengutamakan keselamatan ketika berada di kawasan pegunungan.
Hingga kini, mitos Gunung Piramid tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan pendaki.
Bagi sebagian orang, kisah-kisah tersebut menambah nuansa misterius kawasan pegunungan, sementara bagi masyarakat sekitar, mitos adalah warisan budaya yang patut dihormati tanpa harus dianggap sebagai fakta yang telah terbukti.
Penulis: Mochammad Feriel Alfaritzy
Editor : M. Ainul Budi