Radar Ijen - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tak lagi bisa dihindari dunia pendidikan. Alih-alih menganggapnya sebagai ancaman, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bondowoso justru mengajak para guru menjadikan teknologi sebagai sahabat belajar. Lewat program PGRI Power, ribuan guru disiapkan agar mampu memanfaatkan AI tanpa kehilangan peran utamanya sebagai pendidik.
Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk program PGRI Power yang dirangkai dengan Bimbingan Teknis (Bimtek), Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis Artificial Intelligence (AI), Sabtu (25/7). Program ini ditargetkan menjangkau 1.000 guru di Bondowoso.
Ketua PGRI Bondowoso, Suhartono, mengatakan PGRI Power merupakan tindak lanjut program PGRI Pusat untuk mendorong guru beradaptasi dengan perkembangan teknologi, khususnya coding dan AI. "Tidak ada alasan guru itu tidak bisa digital di era seperti ini," ujarnya.
Baca Juga: Ribuan Warga Bondowoso Belum Rekam KTP-e
Menurutnya, AI bukan pengganti guru, melainkan alat pendukung pembelajaran. Guru tetap memegang peran utama dalam membimbing peserta didik. "Guru tetap selamanya berada di murid. Peran guru tetap mengawal bagaimana memanfaatkan coding dan AI itu sesuai peruntukannya," katanya.
Pelatihan akan dilakukan bertahap dengan pola in-on agar peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga menerapkannya di sekolah. "Ini menjadi pembahasan yang serius. Karena itu berbayar seperti itu," ungkapnya.
Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, menilai penguasaan AI dan coding kini menjadi kebutuhan bagi guru agar tidak tertinggal dari perkembangan zaman. "Harus paham tentang AI, harus paham tentang coding, kita jangan sampai tertinggal," katanya.
Menurut Taufan, guru saat ini bukan lagi satu-satunya sumber informasi di kelas karena siswa dapat mengakses berbagai pengetahuan melalui internet. "Guru itu bukan lagi terpandai, terpintar di kelas. Bukan lagi, karena anak-anak bisa mengunggah sendiri, bisa download sendiri informasi-informasi itu," ujarnya.
Karena itu, guru dituntut mampu memanfaatkan teknologi sebagai penunjang pembelajaran. Upaya tersebut juga didukung dengan keberadaan Interactive Flat Panel (IFP) di sejumlah sekolah. "Bagaimana kita bisa menggunakan teknologi ini untuk mendukung pembelajaran," pungkasnya. (ham)
Editor : M. Ainul Budi