BADEAN, Radar Ijen - Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 di Bondowoso masih dibayangi tingginya angka kekerasan terhadap anak. Hingga akhir Juni 2026, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Bondowoso mencatat sebanyak 34 kasus kekerasan yang seluruh korbannya merupakan anak.
Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Dinsos P3AKB Bondowoso, Hafidhatullaily, mengungkapkan bahwa bentuk kekerasan yang ditangani cukup beragam. Tercatat enam kasus persetubuhan terhadap anak, 18 kasus kekerasan fisik, dua kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), satu kasus penelantaran anak, satu kasus penemuan bayi, serta satu kasus pengancaman.
"Ini khusus kasus yang menimpa anak saja ya, total ada 34 kasus," ujarnya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Lely itu, jumlah tersebut tergolong tinggi. Sebagai pembanding, sepanjang 2025 tercatat 85 kasus yang merupakan gabungan korban perempuan dan anak. Sementara tahun ini, baru memasuki pertengahan tahun, sudah terdapat 34 kasus yang seluruhnya menimpa anak.
Di sisi lain, ia menilai meningkatnya angka laporan juga menunjukkan semakin tumbuhnya kesadaran hukum masyarakat. Warga kini lebih berani melaporkan dugaan kekerasan terhadap anak kepada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bondowoso serta meminta pendampingan kepada Satuan Tugas (Satgas) PPA. "Kenapa angkanya meningkat? Sisi positifnya karena masyarakat semakin melek hukum dan percaya kepada tim Satgas PPA," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinsos P3AKB Bondowoso, M. Imron, memastikan pemerintah daerah terus memperkuat upaya penanganan sekaligus pencegahan. Setiap laporan yang masuk langsung ditindaklanjuti melalui asesmen bersama Aparat Penegak Hukum (APH).
Korban tidak hanya mendapat pendampingan selama proses hukum, tetapi juga memperoleh layanan pemulihan psikologis melalui psikolog hingga psikiater secara gratis. Selain itu, Dinsos P3AKB terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat agar lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan di lingkungan sekitar. "Untuk pencegahan, kami konsisten melakukan sosialisasi secara masif," terangnya.
Menurutnya, upaya pencegahan tidak akan efektif tanpa dukungan keluarga. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga menjadi fokus utama agar anak memperoleh rasa aman dan komunikasi yang sehat di lingkungan rumah. "Ketahanan keluarga itu merupakan benteng yang paling utama," pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi