Tak Terima Disebut Sebagai Londo Ireng, Jurnalis di Bondowoso Gelar Aksi Demonstrasi Bagikan Bunga Hitam Hingga Jalan Mundur

Ilham Wahyudi • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 17:42 WIB
PROTES KERAS: Sejumlah Jurnalis di Bondowoso membentangkan poster tuntutan, dalam aksi bertajuk "Kami Ireng Tapi Bukan Londo" di depan Museum Kereta Api Bondowoso, Senin (27/7). (ILHAM/JPRJ)
PROTES KERAS: Sejumlah Jurnalis di Bondowoso membentangkan poster tuntutan, dalam aksi bertajuk "Kami Ireng Tapi Bukan Londo" di depan Museum Kereta Api Bondowoso, Senin (27/7). (ILHAM/JPRJ)

KADEMANGAN, Radar Ijen - Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Forum Solidaritas Jurnalis Bondowoso (FSJB), menggelar aksi damai di Bundaran Museum Kereta Api, Kecamatan Bondowoso, Senin (27/7). 

Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menganalogikan wartawan dengan istilah londo ireng.

Londo Ireng diyakini sebagai penyebutan untuk para pengkhianat bangsa pada zaman penjajahan. Mereka adalah pribumi yang mengikuti dan bersekutu dengan penjajah.

Dalam aksi tersebut, para jurnalis menyampaikan orasi dan membentangkan sejumlah poster berisi kritik. Di antaranya bertuliskan "Kami Ireng tapi Bukan Londo", "Londo Ireng Bukan Pers", serta "Kritik adalah Hak bukan Londo Ireng".

Baca Juga: PJU Hingga Rambu di Jalur Ijen Bondowoso Berpotensi Ditambah

Usai berorasi, peserta aksi membagikan bunga mawar hitam kepada para pengendara yang melintas. Aksi kemudian ditutup dengan berjalan mundur, sebagai bentuk penyampaian pesan simbolis.

Salah seorang peserta aksi, Sinca Ari Pangistu mengatakan jurnalis di Bondowoso mengecam pernyataan Presiden Prabowo, yang menganalogikan wartawan dengan istilah "londo ireng".

Menurutnya, organisasi profesi pers menilai penyebutan tersebut merendahkan martabat insan pers sekaligus mencederai kemerdekaan pers yang dijamin dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Baca Juga: Baru Tujuh Bulan Sudah ada 48 Kejadian Kebakaran di Bondowoso

"Pernyataan seperti itu tidak patut diucapkan oleh seorang kepala negara," ujar perempuan yang juga menjabat Ketua PWI Bondowoso itu.

Ia menegaskan, jurnalis merupakan pengawal demokrasi yang menjalankan fungsi kontrol sosial, bukan musuh negara. Pers memiliki peran sebagai watchdog dan check and balances untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan.

Karena itu, pihaknya mendesak Presiden Prabowo menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf secara terbuka kepada insan pers atas penggunaan istilah yang dinilai merendahkan profesi wartawan.

"Meminta seluruh pejabat negara menghormati kemerdekaan pers sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers," ujarnya.

Selain itu, para peserta aksi juga menegaskan penolakan terhadap segala bentuk intimidasi, stigmatisasi, kriminalisasi, maupun upaya pelemahan terhadap kerja-kerja jurnalistik.

Baca Juga: Kejati Jatim Turun ke Bondowoso, Selidiki Dugaan Korupsi Pupuk, Sudah Periksa Banyak Poktan

Mereka mengajak seluruh organisasi pers, perusahaan media, jurnalis, akademisi, dan masyarakat sipil untuk bersama-sama menjaga kemerdekaan pers sebagai salah satu fondasi demokrasi.

Aksi tersebut sekaligus menjadi penegasan komitmen insan pers untuk tetap menjalankan tugas jurnalistik secara profesional, independen, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik. "Pak Presiden, kami ireng tapi kami bukan Londo," pungkasnya. (ham)

Editor : Ilham Wahyudi
aksi damai londo ireng Jurnalis Bondowoso PWI Bondowoso Presiden Prabowo