PDIP Bondowoso Refleksikan Kudatuli, Ajak Kader Rawat Demokrasi dan Ingatkan Bahaya Otoritarianisme

Ilham Wahyudi • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 14:22 WIB
Ketua DPC PDIP Bondowoso, Sinung Sudrajat (dua dari kiri) memberikan keterangan kepada sejumlah awak media.
Ketua DPC PDIP Bondowoso, Sinung Sudrajat (dua dari kiri) memberikan keterangan kepada sejumlah awak media.

BADEAN, Radar Ijen - Tiga dekade berlalu, sejak Tragedi Kudatuli mengguncang panggung politik nasional. Momentum itu dimanfaatkan DPC PDI Perjuangan Bondowoso untuk mengenang sejarah.

Sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga demokrasi. Refleksi tersebut juga menjadi pengingat agar praktik kekuasaan yang otoriter tidak kembali terulang di Indonesia.

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Bondowoso menggelar refleksi peringatan Tragedi 27 Juli 1996 atau Kudatuli, Senin (27/7), di Aula Kantor DPC PDI Perjuangan Bondowoso. 

Acara itu diisi doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu peristiwa penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Baca Juga: Manifestasi Dewi Saraswati; Simbol Ekosistem Pendidikan Holistik Diusung Pelajar Asal Bondowoso ini di JFC 2026

Peristiwa 27 Juli 1996, atau tepat 30 tahun lalu, dikenang sebagai penyerbuan terhadap Kantor DPP PDI yang menimbulkan korban jiwa dan menjadi salah satu tonggak penting dalam dinamika politik nasional.

Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Sinung Sudrajat, mengatakan refleksi tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah yang harus terus diingat oleh seluruh kader partai.

"Sebagai kader PDI Perjuangan, kami tidak boleh meninggalkan sejarah. Kami harus senantiasa menghargai sejarah. Karena itu hari ini kami melaksanakan refleksi Peristiwa 27 Juli 1996 sebagai bagian dari perjalanan sejarah bangsa, khususnya dalam perkembangan politik dan demokrasi Pancasila," ujarnya.

Baca Juga: Targetnya Minimal Masuk Semi Final, Tim U-16 Persebo 1964 Bondowoso Melangkah ke Putaran Nasional, Sukses Back To Back Juara Liga Top Skor Regional

Menurut Sinung, penyerbuan Kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 menjadi salah satu titik awal perubahan besar dalam perjalanan politik Indonesia.

Rentetan peristiwa setelah tragedi itu kemudian bermuara pada lahirnya era Reformasi yang membawa perubahan terhadap sistem politik nasional.

"Diakui atau tidak, kerusuhan 27 Juli 1996 menjadi awal perubahan dinamika politik bangsa. Peristiwa itu diikuti berbagai konflik hingga akhirnya melahirkan Reformasi. Setelah itu tatanan demokrasi dan perpolitikan Indonesia menjadi lebih dinamis dan menjalankan demokrasi yang sesungguhnya hingga saat ini," katanya.

Ia berharap semangat Reformasi terus dijaga oleh seluruh elemen bangsa agar demokrasi Indonesia tetap berjalan sesuai dengan jati diri bangsa dan nilai-nilai Pancasila.

Sinung juga menegaskan bahwa Tragedi Kudatuli menjadi pelajaran penting bagi seluruh bangsa bahwa tidak ada kekuasaan yang bersifat abadi.

"Kekuasaan yang abadi hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa. Siapa pun yang memimpin, selama mampu menjaga amanah dan cita-cita perjuangan bangsa, tentu akan tetap dicintai rakyat," tegasnya.

Baca Juga: Pemkab Bondowoso Pertahankan Sawah Organik Lewat Peraturan Bupati

Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi pengingat agar praktik-praktik kekuasaan yang bersifat otoriter tidak kembali terjadi di Indonesia.

"Itu menjadi pelajaran berharga bagi PDI Perjuangan maupun seluruh bangsa. Jangan sampai peristiwa seperti itu terulang lagi. Kekuasaan yang otoriter bukanlah jati diri Indonesia," ucapnya.

Dalam refleksi tersebut, Sinung memaparkan kronologi Tragedi 27 Juli 1996 beserta hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut.

Baca Juga: Super Keren! Tinggalkan Jejak Kreatif, Peserta MPLS SMKN 3 Bondowoso Sulap Tembok Sekolah Dengan Mural 3 Dimensi

Kegiatan juga diisi pembacaan tahlil dan doa bersama sebagai penghormatan kepada para pejuang demokrasi yang menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa.

Ia berharap refleksi tersebut mampu membangkitkan semangat kader untuk terus hadir di tengah masyarakat dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

"Kami ingin refleksi ini menggugah semangat kader PDI Perjuangan, khususnya di Kabupaten Bondowoso, agar semakin membumi, berbaur bersama rakyat, menangis dan tertawa bersama rakyat," pungkasnya. (ham)

Editor : Ilham Wahyudi
kader partai Tragedi Kudatuli refleksi sejarah politik nasional pdip bondowoso