Air Jadi Barang Mewah di Dusun Terpencil Kabupaten Bondowoso Ini, Warga Harus Jalan Kaki Puluhan Kilometer Lewati Tebing Demi Satu Jerigen

Faqih Humaini • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 15:59 WIB
DIANGKUT: Sejumlah warga desa saat membawa air bersih. Mereka harus menempuh jarak berkilo-kilo meter demi satu bak air bersih.(FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)
DIANGKUT: Sejumlah warga desa saat membawa air bersih. Mereka harus menempuh jarak berkilo-kilo meter demi satu bak air bersih.(FAQIH HUMAINI/RADAR IJEN)

 

KARANGSENGON, Radar Ijen – Krisis air bersih masih menjadi kenyataan pahit bagi ratusan warga Dusun Belanguan, Desa Karangsengon, Kecamatan Klabang.

Di tengah kemarau, kebutuhan paling dasar seperti minum dan memasak justru berubah menjadi perjuangan harian yang menguras tenaga dan waktu.

Sedikitnya 400 jiwa atau sekitar 100 kepala keluarga (KK) tinggal di kawasan dataran tinggi tersebut.

Namun hingga kini, akses air bersih belum tersedia. Warga terpaksa menggantungkan kebutuhan hidup dari sumber mata air yang jaraknya cukup jauh dari permukiman.

Setiap hari, warga membawa jeriken dan berjalan kaki menempuh perjalanan berkilometer.

Baca Juga: Targetnya Minimal Masuk Semi Final, Tim U-16 Persebo 1964 Bondowoso Melangkah ke Putaran Nasional, Sukses Back To Back Juara Liga Top Skor Regional

Jalur yang dilalui bukan jalan biasa, melainkan setapak curam, berbatu, dan menanjak. Aktivitas ini menjadi rutinitas yang tak terhindarkan, meski melelahkan dan berisiko.

Tidak sedikit warga yang memanfaatkan kuda untuk mengangkut air. Hewan tersebut menjadi satu-satunya sarana yang mampu melewati medan ekstrem menuju dusun.

Bahkan bagi perempuan, anak-anak, hingga lansia, perjalanan ini tetap harus dijalani demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga setempat,  Darso, mengatakan kondisi krisis air bersih sudah berlangsung lama tanpa solusi nyata.

Baca Juga: Baru Tujuh Bulan Sudah ada 48 Kejadian Kebakaran di Bondowoso

“Setiap hari warga harus jalan jauh bawa jeriken. Ada yang pakai kuda karena jalannya sangat sulit,” ujarnya. Ia menyebut sebagian besar waktu warga habis hanya untuk mendapatkan air.

Selain menguras tenaga, perjalanan menuju sumber air juga menyimpan risiko keselamatan. Jalur licin dan berbatu kerap membahayakan, terutama saat cuaca buruk. Kondisi geografis yang sulit juga membuat kendaraan tidak bisa menjangkau lokasi sumber air.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan, baik melalui bantuan distribusi air bersih maupun pembangunan infrastruktur permanen. Bagi mereka, air bukan sekadar kebutuhan, tetapi penentu kesehatan dan kualitas hidup. Tanpa solusi nyata, perjuangan menaklukkan medan terjal demi setetes air akan terus menjadi cerita sehari-hari di Belanguan. (faq/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
berita bondowoso krisis air Bondowoso