RADAR JEMBER - Fenomena minimnya murid baru mulai mengancam keberlangsungan sejumlah sekolah negeri di Bondowoso.
Tak hanya sekolah di pelosok, sekolah dasar yang berada di kawasan perkotaan pun mengalami penurunan drastis. Apa Penyebabnya?
ILHAM WAHYUDI, Dabasah - Radar Ijen
Minimnya siswa yang masuk ke sekolah plat merah itu, diketahui saat penerimaan siswa baru beberapa hari lalu. Semua sekolah menggelar masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
Baca Juga: PPTKH Jadi Jalan Terakhir, Perhutani KPH Bondowoso Ingatkan Sanksi Pidana jika Langgar Peruntukan
Namun, tak semua sekolah menggelarnya bersama puluhan bahkan ratusan siswa. Diketahui, sejumlah sekolah menggelar acara itu meski jumlah siswa barunya tak mencapai 10 orang.
Sejumlah sekolah negeri di Bondowoso tercatat hanya menerima murid baru di bawah 10 orang. Di antaranya SDN Dabasah 2, Kecamatan Bondowoso, yang hanya memperoleh enam siswa baru serta SDN Locare 1, Kecamatan Curahdami, dengan lima murid kelas I. Kondisi serupa juga dialami SMP Negeri 1 Curahdami dan sejumlah sekolah lainnya.
Guru SDN Dabasah 2 Dina Anggraeni mengaku sekolah telah melakukan berbagai cara untuk mendongkrak jumlah peserta didik.
Mulai sosialisasi langsung, promosi melalui media sosial, menjalin kerja sama dengan taman kanak-kanak hingga memberikan fasilitas belajar mengaji gratis.
Namun, berbagai upaya tersebut belum mampu mendongkrak minat masyarakat. Jumlah murid baru justru turun dibanding tahun sebelumnya.
"Tahun ini jumlah siswa baru kami turun. Tahun lalu kelas I ada 10 orang," jelasnya.
Menurutnya, menjamurnya sekolah swasta di kawasan perkotaan menjadi salah satu penyebab berkurangnya minat masyarakat menyekolahkan anak ke SD negeri. Kondisi itu, kata dia, tidak hanya dialami sekolah tempatnya mengajar.
"Kalau saya perhatikan, sekarang banyak SD swasta. Sebenarnya yang mengalami penurunan jumlah siswa tidak hanya sekolah kami," tambahnya.
Dampak minimnya jumlah peserta didik juga dirasakan dalam pembiayaan sekolah. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dihitung berdasarkan jumlah siswa membuat anggaran semakin terbatas. Bahkan, guru bersama kepala sekolah kerap mengeluarkan uang pribadi untuk menutupi kebutuhan kegiatan yang tidak dapat dibiayai BOS. Saat ini total siswa SDN Dabasah 2 dari kelas I hingga VI hanya sekitar 54 orang. (ham)
Editor : M. Ainul Budi