RADAR JEMBER - Upaya mempercepat perbaikan jalan mulai didorong dengan cara berbeda. Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (BSBK) Bondowoso menggelontorkan hibah aspal ke desa, namun dengan skema kolaboratif berbasis swadaya.
Program ini membuka kesempatan bagi pemerintah desa (pemdes) untuk ikut terlibat langsung menangani kerusakan jalan di wilayahnya. Di sisi lain, desa juga dituntut kesiapan, baik dari sisi material pendukung maupun tenaga kerja.
Kepala Dinas BSBK Bondowoso Ansori mengungkapkan, hingga kini sudah ada tiga desa yang mengajukan usulan. Yakni Desa Kembang dan Gunosari di Kecamatan Tlogosari serta Desa Mangli di Kecamatan Pujer. “Aspal drum sudah diusulkan oleh tiga desa. Kami persilakan desa lain yang memiliki kesiapan untuk ikut mengajukan,” kata Ansori.
Baca Juga: Sensasi Balon Udara ala Turki Segera Hadir di Kawah Wurung, Investor Mulai Lirik Bondowoso?
Menurutnya, skema ini dipilih agar penanganan jalan tidak sepenuhnya bergantung pada proyek besar pemerintah. Dengan keterlibatan desa, perbaikan diharapkan bisa lebih cepat menyasar titik-titik kerusakan ringan hingga sedang.
Dalam program ini, BSBK menyediakan aspal dari hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sementara pelaksanaan dikerjakan bersama oleh pemdes dan masyarakat.
Pola gotong royong ini dinilai menjadi solusi di tengah keterbatasan anggaran.“Ini bentuk kolaborasi. Pemerintah menyiapkan aspal, desa menyiapkan pelaksanaan di lapangan,” ujarnya.
Setiap usulan yang masuk akan diverifikasi melalui survei tim teknis. Langkah ini untuk memastikan kebutuhan aspal sesuai dengan kondisi riil di lapangan.“Kondisi jalan berbeda-beda, jadi kebutuhan aspal juga tidak sama. Kami hitung berdasarkan hasil survei,” jelasnya.
Baca Juga: Akhirnya Cair! Honor 2.880 Guru PAUD di Bondowoso Dibayarkan
Ansori menyebutkan, total hibah yang diterima mencapai 250 drum aspal pada 2025. Namun, pemanfaatannya baru bisa dimaksimalkan pada 2026 setelah ketersediaan material pendukung di tingkat desa mulai mencukupi.
Di sisi lain, BSBK menegaskan program ini tidak berkaitan dengan penanganan jalan akibat ambruknya Jembatan Sentong yang memiliki skema anggaran tersendiri.
Selain hibah aspal, pemeliharaan rutin jalan kabupaten tetap menjadi prioritas sepanjang tahun ini. Kebijakan tersebut merupakan arahan bupati agar kerusakan jalan bisa ditangani lebih dini sebelum semakin parah.
Meski demikian, kebutuhan penanganan jalan di Bondowoso masih cukup besar. Karena itu, BSBK juga mengusulkan penambahan anggaran pemeliharaan agar cakupan perbaikan bisa lebih luas.
Dengan skema ini, desa didorong tidak hanya menunggu, tetapi ikut bergerak. Harapannya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat mampu mempercepat perbaikan jalan sekaligus menjaga kondisi infrastruktur tetap layak digunakan.
Editor : M. Ainul Budi