Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Selawat Jadi Ruang Serap Aspirasi, PDIP Bondowoso Kemas Politik dengan Sentuhan Spiritual Perjuangan

Faqih Humaini • Jumat, 3 Juli 2026 | 09:15 WIB
BERIKAN EDUKASI: Sinung Sudrajad (tengah) saat memberikan penjelasan mengenai pendidikan politik (FAQIH/RJ)
BERIKAN EDUKASI: Sinung Sudrajad (tengah) saat memberikan penjelasan mengenai pendidikan politik (FAQIH/RJ)

 

BONDOWOSO, Radar Jember  – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bondowoso mulai melakukan pendekatan politiknya dengan sentuhan yang lebih spiritual. Lewat agenda rutin “Jumat Manisan Indonesia Perjuangan”, pengajian dan selawatan tidak sekadar menjadi forum ibadah, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang menyerap aspirasi masyarakat akar rumput.

Kegiatan yang digelar setiap malam Jumat Manis di sekretariat partai itu langsung menarik antusiasme kader, simpatisan, hingga kalangan santri. Forum tersebut menjadi wadah baru yang mempertemukan dinamika politik dengan nuansa religius.

Baca Juga: Petani Jangan Anggap Remeh Leptospirosis, Dinkes Bondowoso Terus Lakukan Trapping Guna Cegah Penyebaran

Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Sinung Sudrajad, mengakui bahwa agenda ini lahir dari kebutuhan internal kader yang menginginkan pembinaan spiritual sekaligus ruang komunikasi yang lebih cair dengan masyarakat.

“Di sela-sela pengajian, kami tidak hanya membaca selawat, tapi juga berdialog tentang kondisi Bondowoso, persoalan di bawah, hingga aspirasi masyarakat yang perlu diperjuangkan,” ujarnya, Kamis (2/7).

Menurut Sinung, pola ini menjadi pendekatan alternatif agar partai tidak berjarak dengan masyarakat. Ia menilai, komunikasi yang dibangun dalam suasana religius justru lebih terbuka dan jujur.

Baca Juga: Sempat Terkendala Server, OSN Bondowoso Dipastikan Lanjut, DPRD Soroti Fasilitas Minim

Pengajian tersebut dipimpin oleh Lora Ali Murtadho, yang juga pengurus DPC. Ia merancang konsep kegiatan agar tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi tradisi yang hidup di lingkungan partai.

“Selawat ini bukan sekadar rutinitas. Ini upaya membangun karakter kader agar lebih tenang, tidak reaktif, dan tetap mengedepankan akhlak dalam berpolitik,” kata Lora Ali.

Menariknya, usai pengajian, peserta juga melanjutkan dengan ziarah ke makam Kiai Ronggo. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap ulama sekaligus penguatan nilai historis dan spiritual di Bondowoso.

 

Sinung menegaskan, langkah ini juga merupakan upaya menghidupkan kembali nilai-nilai yang diajarkan Bung Karno. Menurutnya, perjuangan politik tidak bisa dilepaskan dari keseimbangan antara hubungan antarmanusia dan hubungan dengan Tuhan.

“Politik tidak cukup hanya hablum minannas, tapi juga harus hablum minallah. Itu yang ingin kami kuatkan,” tegasnya.

Baca Juga: Pesantren Mulai Didorong Mandiri, Bupati Bondowoso Sebut Wakaf Produktif Akui Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi

Sementara itu, Lora Ali menilai konsep “Selawat Perjuangan” menjadi representasi perpaduan antara religiusitas dan semangat kebangsaan. Ia berharap forum tersebut bisa menjadi pintu masuk bagi generasi muda, khususnya santri, untuk ikut berkontribusi dalam kehidupan sosial dan politik.

“Kalau spiritualnya kuat, cara berpikir dan bertindak juga akan lebih bijaksana. Ini yang ingin kami bangun di internal partai,” tandasnya.

Ke depan, kegiatan ini akan digelar secara rutin setiap bulan dan terbuka bagi masyarakat umum. Selain sebagai ruang ibadah, forum tersebut diharapkan menjadi kanal baru bagi partai dalam menangkap denyut persoalan rakyat secara langsung.

 

 

Editor : Faqih Humaini
#Sinung Sudrajad #Bondowoso #pdip bondowoso