Radar Ijen – Ancaman leptospirosis di Bondowoso masih perlu diwaspadai. Penyakit yang ditularkan melalui bakteri dari tikus ini kerap muncul saat aktivitas masyarakat bersentuhan langsung dengan lingkungan kotor, terutama di area persawahan dan sekitar rumah.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso, dr. Moh. Jasin, menjelaskan bahwa leptospirosis disebabkan oleh bakteri leptospira yang dibawa tikus.
Penularannya terjadi melalui air kencing, kotoran, maupun air liur tikus yang masuk ke tubuh manusia, terutama melalui luka terbuka atau selaput lendir seperti hidung dan mulut.
Baca Juga: Sempat Terkendala Server, OSN Bondowoso Dipastikan Lanjut, DPRD Soroti Fasilitas Minim
“Selama tikus itu mengandung bakteri leptospira, maka berpotensi menularkan. Media penularannya bisa dari kencing, kotoran, atau air liur yang mengenai tubuh manusia,” ujarnya.
Gejala yang ditimbulkan umumnya berupa demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, nyeri otot, dan sakit kepala.
Dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi lebih serius hingga menyerang organ vital seperti ginjal. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci agar penyakit tidak berkembang ke tahap berat.
Menurut dr. Jasin, hingga pertengahan tahun ini tercatat tujuh kasus leptospirosis di Bondowoso.
Baca Juga: Lima Bulan, Temukan 185 Kasus TBC di Kabupaten Bondowoso
Meski demikian, kondisi tersebut dinilai lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Seluruh pasien juga dilaporkan tidak sampai mengalami komplikasi berat seperti gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah.
“Alhamdulillah tidak ada yang sampai cuci darah. Tren kasus juga menurun dibandingkan tahun lalu, tapi kewaspadaan tetap harus ditingkatkan,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes mengintensifkan upaya pengendalian tikus melalui metode trapping atau pemasangan jebakan.
Cara ini dinilai lebih aman dibandingkan penggunaan racun, karena tikus yang mati akibat racun berpotensi mencemari lingkungan melalui cairan tubuhnya.
Selain itu, masyarakat khususnya petani diimbau menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu boot saat beraktivitas di sawah. Hal ini penting untuk mencegah bakteri masuk melalui luka di kaki yang sering tidak disadari.
“Kalau ada gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat, baik puskesmas maupun rumah sakit. Jangan menunggu parah,” tegas dr. Jasin. Dinkes berharap langkah pencegahan dan kesadaran masyarakat mampu menekan penyebaran leptospirosis di Bondowoso.
Editor : M. Ainul Budi