Radar Ijen – Kader pendamping Tuberkulosis (TBC) binaan yayasan bhanu yasa sejahtera (Yabhysa) Bondowoso, terus memperkuat penemuan kasus di tingkat komunitas. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, sebanyak 185 pasien TBC berhasil ditemukan, termasuk 48 pasien TBC resisten obat (RO).
Staf Program SSR Yabhysa Bondowoso Hijrotul Ilahiyah menjelaskan, angka tersebut merupakan hasil penelusuran kader di lapangan sehingga berbeda dengan data resmi Dinas Kesehatan. karena tidak semua pasien ditemukan oleh kader. “Ada juga pasien yang datang sendiri ke puskesmas sehingga tidak masuk dalam data kami," ujarnya.
Para kader bekerja menggunakan metode investigasi kontak. Mereka mendatangi rumah pasien yang tercatat dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), berkoordinasi dengan puskesmas, lalu memeriksa anggota keluarga maupun kontak erat yang berisiko tertular.
Bagi warga yang belum bergejala, kader mengarahkan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Perempuan yang akrab disapa Ila itu menuturkan, selain menemukan pasien, kader juga bertugas memberikan edukasi agar stigma terhadap TBC terus berkurang. Dulu masyarakat banyak yang menganggap TBC itu penyakit turunan atau karena hal mistis.
“Sekarang pemahaman masyarakat sudah jauh lebih baik sehingga kader lebih mudah diterima," katanya.
Meski demikian, penolakan masih sesekali terjadi, terutama dari penderita yang khawatir penyakitnya diketahui orang lain. Bagi mereka yang memiliki jabatan atau status sosial tertentu, justru kadang lebih sulit menerima kunjungan kader karena merasa malu.
"Sampai sekarang masih ada yang menolak, terutama di wilayah perkotaan,” paparnya.
Sementara itu, MK TBC RO Yabhysa Bondowoso Sofyan Suryantara Nofriyanto menyebut jumlah pasien TBC RO juga menunjukkan tren menurun. “Ada yang siswa tahun sebelumnya. Sejak tahun 2024 itu pasien TBC RO sebanyak 108. Alhamdulillah selama tiga tahun ada penurunan,” pungkasnya. (ham)
Editor : M. Ainul Budi