
NANGKAAN, Radar Ijen – Kesenian ronjengan tak boleh dibiarkan punah. Dentingan ritmis dari lesung yang dipukul serempak masih menggema di pedesaan Bondowoso, menjadi penanda bahwa tradisi ini tetap hidup dan wajib terus dijaga.
Plt Kabid Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, Hery Kusdaryanto menegaskan, ronjengan merupakan warisan budaya yang tidak bisa ditinggalkan.
“Ini bukan sekadar kesenian, tapi tradisi yang harus terus dirawat dan dilestarikan,” tegasnya.
Baca Juga: Dispendik Pastikan Proses OSN Sesuai Prosedur, Ini Kronologi Lengkap hingga Hasil Belum Tercantum
Upaya pelestarian pun terus didorong. Kelompok-kelompok ronjengan kembali diaktifkan, sementara generasi muda mulai dilibatkan dalam setiap penampilan. Langkah ini dinilai penting agar ronjengan tidak berhenti pada generasi lama.
Di setiap pementasan, ronjengan tetap menghadirkan suasana kebersamaan yang kuat. Irama sederhana yang dimainkan mampu menyatukan warga sekaligus memperkuat ikatan sosial di desa.
Tak hanya itu, ronjengan juga terus dihadirkan dalam berbagai momentum, mulai perayaan kemerdekaan hingga malam takbiran. Kehadiran rutin ini menjadi cara konkret menjaga eksistensinya di tengah gempuran budaya modern.
Baca Juga: Hasil OSN Belum Tercantum, Dispendik Bondowoso Langsung Koordinasi Intensif dengan Pusat
Menurut Hery, kekuatan ronjengan ada pada kesederhanaannya. Tanpa alat modern, kesenian ini tetap mampu bertahan karena didukung partisipasi masyarakat.
“Selama masih dimainkan dan diwariskan, ronjengan tidak akan hilang,” ujarnya.
Karena itu, pelestarian ronjengan bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban bersama. Jika tidak dijaga, tradisi ini berpotensi hilang tergerus zaman. Bagi warga Bondowoso, menjaga ronjengan berarti menjaga identitas dan warisan leluhur agar tetap hidup. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi