KEMBANG, Radar Ijen – Programperemajaan tebu rakyat di Bondowoso mulai menunjukkan tantangan serius. Hingga pertengahan Juni 2026, realisasi baru menyentuh 32 persen dari total target 2.352 hektare. Kondisi ini menjadi alarm dini bagi upaya mengejar target swasembada gula nasional.
Kepala Dinas Pertanian Bondowoso Mulyadi mengakui, percepatan pelaksanaan menjadi pekerjaan rumah besar.
Pasalnya, waktu yang tersedia semakin sempit, sementara seluruh proses peremajaan harus rampung sebelum masa tutup giling Pabrik Gula Prajekan pada November mendatang.
“Kalau tidak segera dikejar, kita akan berbenturan dengan jadwal tutup giling. Dampaknya bukan hanya ke program ini, tapi juga ke produksi tahun berikutnya,” ujarnya.
Baca Juga: Hasil OSN Belum Tercantum, Dispendik Bondowoso Langsung Koordinasi Intensif dengan Pusat
Secara teknis, bongkar ratoon bukan sekadar program rutin, melainkan langkah krusial untuk memutus tren penurunan produktivitas. Tanaman tebu yang dibiarkan berulang kali dipanen tanpa peremajaan terbukti mengalami penurunan hasil, bahkan berisiko merugikan petani.
Namun di lapangan, tidak semua petani langsung melakukan peremajaan. Faktor biaya, kebiasaan lama, hingga pertimbangan jangka pendek masih menjadi kendala yang membuat adopsi program berjalan tidak secepat yang diharapkan.
Padahal, data produksi menunjukkan potensi besar. Pada musim giling 2025, produksi tebu Bondowoso mencapai sekitar 5,2 juta kuintal, melampaui target 5 juta kuintal. Tahun ini, target kembali dinaikkan menjadi 5,5 juta kuintal—angka yang sulit dicapai tanpa percepatan peremajaan.
Jika bongkar ratoon tidak optimal, peningkatan target justru berpotensi menjadi beban. Sebab, produktivitas lahan lama yang tidak diremajakan cenderung stagnan atau menurun, sehingga tidak mampu menopang kenaikan produksi secara signifikan.
Baca Juga: Dispendik Pastikan Proses OSN Sesuai Prosedur, Ini Kronologi Lengkap hingga Hasil Belum Tercantum
Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i menegaskan, sektor tebu bukan hanya soal angka produksi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ekonomi petani. Ia menilai keberhasilan program ini membutuhkan keseriusan semua pihak, bukan hanya pemerintah. “Kalau ingin swasembada gula tercapai, tidak bisa setengah-setengah. Petani, penyuluh, hingga industri harus bergerak bersama,” tegasnya.
Dengan hanya satu pabrik gula, yakni PG Prajekan, ketergantungan Bondowoso terhadap pasokan tebu lokal sangat tinggi. Artinya, kegagalan mempercepat bongkar ratoon bukan hanya mengancam target produksi, tetapi juga stabilitas industri gula di daerah.
Situasi ini menjadikan bongkar ratoon sebagai ujian nyata. Bukan sekadar program strategis di atas kertas, tetapi tolok ukur keseriusan Bondowoso dalam menjaga produktivitas, meningkatkan kesejahteraan petani, dan berkontribusi pada swasembada gula nasional. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi