Desa Gubrih, Kecamatan Wringin, bakal menjadi laboratorium pengembangan pelayanan desa berbasis digital di Bondowoso.
Fakultas Hukum Universitas Bondowoso (Unibo) memilih desa tersebut sebagai pilot project sebelum model serupa diterapkan di desa-desa lain.
Program yang digagas Bidang Kemahasiswaan, Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM), dan Fakultas Hukum Unibo itu tak sekadar menghadirkan pendampingan.
Mahasiswa akan diterjunkan langsung ke lapangan untuk mengawal proses digitalisasi pelayanan administrasi desa sekaligus mendampingi peningkatan kapasitas aparatur.
Sejumlah program telah disiapkan, mulai SimpelDesa Academy, workshop, hingga studi tiru. Keterlibatan mahasiswa juga diharapkan menjadi wadah pembelajaran berbasis praktik karena dapat dikonversi menjadi Satuan Kredit Semester (SKS).
"Program penguatan ini sangat menarik untuk ditindaklanjuti karena menekankan pada kolaborasi antar lembaga dan pemberdayaan mahasiswa," jelas Abrori, dosen Fakultas Hukum Unibo.
"Selain bisa mengkonversi SKS (Satuan Kredit Semester), ada nilai tambah lain terkait penguatan skill dan pengalaman nyata bagi mahasiswa," imbuhnya.
Dosen yang akrab disapa Cak Ab itu menuturkan, SimpelDesa Academy akan difokuskan pada pelatihan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) aparatur desa serta program internship (magang) bagi mahasiswa.
Nantinya, mahasiswa akan terlibat langsung dalam agenda Workshop dan Studi Tiru Digitalisasi Desa sebagai bagian dari percepatan transformasi pelayanan publik di tingkat desa.
Kepala Desa Gubrih Abdul Bari menyambut baik program tersebut. Menurutnya, digitalisasi akan menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
"Nantinya, kepala desa bisa memberikan pelayanan administrasi menggunakan sistem tanda tangan barcode (kode batang), seperti yang telah banyak diterapkan di berbagai instansi pemerintah," pungkasnya. (*)
Editor : Ilham Wahyudi