JEMBER, Radar Jember – Membengkaknya jumlah keluarga dalam kategori desil 1 di Bondowoso dinilai sebagai kondisi darurat sosial yang membutuhkan respons cepat. Data terbaru menunjukkan tambahan 1.198 keluarga sangat miskin, sehingga total mencapai 46.277 keluarga atau sekitar 104.368 jiwa.
Baca Juga: Desil 1 Melejit, DPRD Soroti Lemahnya Perlindungan Sosial, Usulan Operasi Khusus Jadi Solusi Darurat
“Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi sinyal bahwa daya tahan ekonomi masyarakat paling bawah sedang melemah dan perlu respons cepat pemerintah,” ujar Akademisi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jember, Dr. Iffan Gallant El Muhammady.
Menurutnya, lonjakan tersebut menjadi indikator bahwa tekanan ekonomi sudah menembus kelompok paling rentan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi memicu masalah sosial yang lebih luas, termasuk peningkatan pengangguran dan kerentanan pangan.
Baca Juga: Status UNESCO Jadi Senjata Lobi, Bondowoso Kejar Dana Infrastruktur Rp300 Miliar
Ia menegaskan perlunya intervensi darurat dalam jangka waktu 90 hari, terutama bagi keluarga yang baru masuk kategori sangat miskin. Program ini harus fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar agar dampak krisis tidak semakin meluas.
Bantuan pangan, akses layanan kesehatan melalui skema PBI JKN, serta percepatan program rumah tidak layak huni (RTLH) menjadi prioritas utama. Intervensi ini dinilai sebagai langkah penyelamatan awal sebelum masuk ke strategi jangka menengah.
Selain itu, pemerintah daerah juga diminta menjaga daya beli masyarakat melalui program padat karya tunai. Skema ini dinilai mampu memberikan pemasukan langsung sekaligus menggerakkan ekonomi di tingkat desa.
Untuk jangka menengah, penguatan ekonomi produktif menjadi kunci. Program KUR Super Mikro serta pengembangan UMKM berbasis potensi lokal seperti kopi dan tape harus dioptimalkan agar masyarakat memiliki sumber pendapatan berkelanjutan.
Iffan juga menekankan pentingnya ketepatan sasaran dalam setiap program. Integrasi data DTKS dengan kondisi riil di lapangan harus diperkuat agar intervensi tidak meleset dari kelompok yang paling membutuhkan. “Jika terlambat atau tidak tepat sasaran, dampaknya bisa semakin berat bagi masyarakat bawah,” tegasnya. (faq)
Editor : Faqih Humaini