Radar Ijen - Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika suara mesin motor itu memecah kesunyian di halaman SPPG Pandak, Kecamatan Klabang. Perlahan, kendaraan roda dua itu bergerak meninggalkan dapur.
Di belakangnya terpasang sebuah gerobak sederhana berbahan seng berwarna biru. Bentuknya jauh dari kesan modern. Jika bukan karena tulisan besar bertuliskan "MBG" di sisinya, maka orang mungkin akan mengira gerobak itu milik pedagang kerupuk kaleng yang sedang berkeliling kampung.
Di dalam gerobak tersebut, ratusan ompreng makanan tersusun rapi. Semuanya harus sampai tepat waktu ke tangan para penerima manfaat. Pemandangan seperti itu mungkin terasa biasa di perkotaan.
Baca Juga: 80 Dapur SPPG MBG di Bondowoso Berhenti Beroperasi Selama Tiga Pekan
Distribusi makanan dapat dilakukan dengan cepat melalui jalan yang mulus dan jarak yang relatif dekat. Namun, cerita berbeda hadir di pelosok Bondowoso.
Di Kecamatan Klabang, setiap perjalanan distribusi bukan sekadar rutinitas mengantar makanan. Ia adalah perjuangan harian yang dipenuhi tantangan medan dan keterbatasan akses.
Frengky memahami betul kondisi itu. Setiap pagi, pria tersebut menjadi salah satu ujung tombak distribusi MBG dari SPPG Pandak.
Sebanyak 180 ompreng makanan menjadi tanggung jawabnya untuk diantarkan ke enam titik layanan, mulai sekolah hingga posyandu yang melayani ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Rutenya membentang dari Desa Pandak hingga Wonoboyo. Jarak yang ditempuh cukup jauh, sementara kondisi jalan tidak selalu ramah bagi kendaraan yang membawa beban berat. Di beberapa titik, jalan berubah menjadi hamparan pasir tebal.
Baca Juga: Program KB MOW di Bondowoso Pemenuhan Fasilitas Harus Dimaksimalkan, Begini Kata Kadinkes
Roda motor kerap kehilangan pijakan. Gerobak yang ditarik di belakang ikut bergoyang mengikuti kontur jalan yang tidak rata. “Medannya cukup jauh dan sulit. Perjalanan dari dapur ke lokasi bisa memakan waktu kurang lebih 45 menit,” tuturnya.
Beban ratusan ompreng membuatnya tidak bisa memacu kendaraan terlalu cepat. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, risiko tergelincir langsung mengintai.
Beberapa kali, Frengky nyaris terjatuh saat melintasi jalan berpasir. Momen-momen itu masih terekam jelas dalam ingatannya. “Kalau tidak hati-hati, gerobak bisa mental ke belakang. Saya pernah beberapa kali hampir jatuh,” ujarnya.
Perjuangan itu belum berakhir ketika makanan tiba di lokasi tujuan. Alih-alih langsung kembali ke dapur, Frengky memilih menunggu hingga seluruh penerima manfaat selesai makan.
Keputusan itu diambil untuk menghemat waktu dan tenaga. Jika harus bolak-balik mengambil ompreng kosong, maka perjalanan yang ditempuh akan semakin panjang.
Akibatnya, satu putaran distribusi bisa menghabiskan hampir setengah hari. “Saya berangkat sekitar pukul delapan pagi. Biasanya menjelang Duhur baru kembali ke dapur. Karena itu saya juga harus membawa bekal sendiri,” katanya sambil tersenyum.
Baca Juga: Sensor Gunung Raung Wajib Dicek Berkala
Di balik rutinitas yang tampak sederhana itu, tersimpan dedikasi yang jarang terlihat. Frengky dan para petugas distribusi lainnya menjadi mata rantai penting yang memastikan program MBG benar-benar hadir hingga ke wilayah terpencil.
Mereka bukan sekadar pengantar makanan. Mereka adalah penghubung antara dapur dan harapan. Menembus jalan berpasir, melintasi jarak yang jauh, serta menghadapi risiko perjalanan demi memastikan setiap ompreng tiba di tangan yang berhak menerimanya. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh