Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tingginya Program KB MOW di Bondowoso, BKKBN Jatim: Wajib Diimbangi Kapasitas Layanan

Faqih Humaini • Minggu, 21 Juni 2026 | 19:14 WIB
Kepala Perwakilan Kemendukbangga Jatim

SHODIQIN
Kepala Perwakilan Kemendukbangga Jatim SHODIQIN

 

radar jember - TINGGINYA animo masyarakat terhadap program Keluarga Berencana (KB) di Kabupaten Bondowoso menjadi catatan penting bagi pemerintah. Meski minat peserta membludak, kuota layanan Medis Operatif Wanita (MOW) tahun ini hanya mencapai 82 akseptor.

Kondisi tersebut pun menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program di tahun mendatang.

Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur, Shodiqin, menjelaskan bahwa keterbatasan kuota bukan disebabkan rendahnya minat masyarakat, melainkan dampak dari penyesuaian anggaran nasional.

Baca Juga: Solusi Pengendalian Kelahiran di Bondowoso! Program MOW Jadi Pilihan Bijak

“Secara nasional anggaran APBN untuk program ini memang mengalami pengurangan hingga sekitar 50 persen. Dulu Bondowoso bisa mencapai sekitar 125, sekarang menjadi 82,” ujarnya.

Meski demikian, capaian program di Bondowoso tetap menunjukkan hasil positif. Dari target awal 70 akseptor MOW, jumlah tersebut bahkan bertambah menjadi 82 berkat dukungan tambahan dari provinsi.

“Artinya Bondowoso sudah mencapai 100 persen target untuk MOW. Ini capaian yang patut diapresiasi,” jelasnya.

Selain itu, pelaksanaan pelayanan KB serentak ini merupakan bagian dari peringatan Hari Keluarga Nasional ke-33.

Secara keseluruhan, target pelayanan KB di Bondowoso mencapai sekitar 3.500 peserta dari berbagai metode kontrasepsi. Pemerintah daerah pun dinilai memiliki komitmen kuat, terlihat dari dukungan penuh jajaran kepala daerah hingga tim medis di lapangan.

Baca Juga: Kuota Terbatas, Antusias Tinggi, Target 82 Akseptor MOW Bondowoso Tercapai 100 Persen  

Namun, tingginya minat masyarakat yang mencapai ratusan peserta menjadi tantangan tersendiri. Banyak calon akseptor yang belum dapat terlayani melalui program MOW karena keterbatasan kuota.

Hal ini membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk memperluas layanan melalui skema anggaran daerah maupun alternatif metode kontrasepsi jangka panjang lainnya.

Shodiqin menegaskan, ke depan perlu adanya penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah agar kebutuhan masyarakat dapat terakomodasi lebih optimal. Selain MOW, masyarakat juga dapat memanfaatkan metode lain seperti IUD dan implan yang memiliki efektivitas jangka panjang. “Yang penting ada komitmen keluarga, sudah memiliki anak, dan sepakat tidak menambah keturunan,” tambahnya.

Evaluasi ini diharapkan menjadi pijakan untuk pengembangan program KB di tahun berikutnya. Dengan dukungan anggaran yang lebih optimal serta strategi pelayanan yang diperluas, pemerintah menargetkan lebih banyak masyarakat dapat terlayani. “Harapannya, animo yang tinggi ini bisa diimbangi dengan kapasitas layanan yang lebih besar, sehingga manfaat program KB benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat Bondowoso,” pungkasnya. (faq/bud)

 

 

Editor : M. Ainul Budi
#berita bondowoso #kb mow #BKKBN #Bondowoso