GRUJUGAN, Radar Ijen - Pemadaman listrik bergilir tak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga berdampak pada pelaku usaha. Sejumlah warga mengaku mengalami kerugian karena listrik kerap padam tanpa pemberitahuan.
Salah satunya Yusi Effendi, pelaku usaha ayam potong asal Desa/Kecamatan Grujugan, Bondowoso.
Dia mengatakan usahanya sangat bergantung pada pasokan listrik. Daging ayam yang disimpan di freezer berisiko rusak, apabila pemadaman berlangsung lama. "Kalau lama kualitas rusak sehingga merugikan," ujarnya.
Selain itu, proses pencabutan bulu ayam yang biasanya menggunakan mesin listrik, terpaksa dilakukan secara manual saat listrik padam sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Ia juga mengaku biaya listrik prabayarnya meningkat akibat seringnya pemadaman.
Dengan daya 450 VA, token listrik senilai Rp 50 ribu yang biasanya cukup untuk sebulan kini hanya bertahan sekitar dua pekan.
Yusi menyayangkan tidak adanya pemberitahuan sebelum pemadaman dilakukan. Saat dikonfirmasi, menurutnya, jawaban yang diterima hanya sebatas adanya gangguan sistem.
"Kalau ada pemadaman, harusnya ada pemberitahuan terlebih dahulu. Sehingga warga bisa melakukan persiapan lebih awal," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Wahyudi, warga Desa Kejawan. Meski bukan pelaku usaha, ia mengaku aktivitas sehari-hari ikut terganggu karena pemadaman yang kerap berlangsung hingga lima jam.
Menurutnya, saat listrik padam warga kesulitan memasak, memompa air, hingga mengakses internet.
Gangguan paling sering terjadi pada malam hari tanpa didahului pemberitahuan dari PLN. "Sempat mengadu, tapi jawabannya normatif. Hanya perbaikan sistem," ujarnya.
Pria yang akrab disapa Nyud itu juga berharap, PLN memberikan penjelasan yang lebih terbuka kepada masyarakat, termasuk pemberitahuan sebelum dilakukan pemadaman bergilir.
Ia juga menyoroti masih banyaknya kabel listrik yang bergelantungan di sejumlah titik dan dinilai perlu mendapat perhatian. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi