TENGGARANG, Radar Ijen – Ketua DPRD Bondowoso Ahmad Dhafir menyoroti serius rencana penyertaan modal untuk Perumda Ijen Tirta dalam pembahasan bersama pemerintah daerah.
Ia menegaskan, penyertaan modal tidak boleh hanya dipandang sebagai penambahan dana, melainkan harus dibarengi dengan kepastian hukum dan perbaikan tata kelola.
Menurut Dhafir, perubahan regulasi dari PDAM ke Perumda Ijen Tirta menjadi perhatian penting. Ia menyebut, aturan lama telah dicabut dan diganti dengan ketentuan baru yang sudah diundangkan.
“Ini bukan sekadar ganti aturan. Tanda tangan itu punya implikasi hukum, jadi harus benar-benar dipastikan dasar hukumnya jelas,” ujarnya.
Dalam pembahasan tersebut, DPRD juga mempertanyakan keterlibatan Perumda Ijen Tirta secara langsung. Terlebih, penyertaan modal bersumber dari APBD yang wajib dibahas bersama legislatif.
Sejumlah data pun menjadi sorotan, termasuk hasil audit BPKP yang mencatat total ekuitas sebesar Rp49 miliar.
Namun, dalam rancangan perda penyertaan modal, angka yang dicantumkan sebesar Rp45 miliar. Sementara penyertaan modal sejak 1989 hingga 2025 baru mencapai Rp25 miliar.
Artinya, ada rencana penambahan sekitar Rp21 miliar yang akan dicicil selama 10 tahun. “Pertanyaannya, setelah ditambah itu, posisi ekuitas menjadi berapa? Ini harus jelas,” tegasnya.
Tak hanya itu, Dhafir juga menyoroti besarnya subsidi yang telah digelontorkan pemerintah daerah kepada Perumda Ijen Tirta, yang nilainya mencapai sekitar Rp14 miliar. Ia mempertanyakan ke mana aliran dana tersebut dan sejauh mana dampaknya terhadap kinerja perusahaan.
“Subsidi sudah diberikan, penyertaan modal juga ada. Tapi hasilnya harus terlihat,” katanya.
Lebih jauh, Dhafir menekankan bahwa orientasi utama bukan sekadar penyertaan modal, melainkan peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Ia menyoroti keluhan air keruh saat musim hujan yang hingga kini masih terjadi. Salah satu penyebabnya diduga karena tandon yang tertanam, sehingga rawan tercampur air hujan saat banjir.
Ia pun mendorong inovasi infrastruktur seperti pembangunan tandon besar di atas permukaan, sebagaimana diterapkan di daerah lain. Dengan begitu, kualitas air bisa lebih terjaga.
“Jangan sampai hanya ganti baju dari PDAM menjadi Perumda Ijen Tirta, tapi pelayanan tetap sama. Harus ada perubahan nyata,” ujarnya.
Di sisi lain, Dhafir juga mengingatkan pentingnya kesehatan keuangan perusahaan. Ia meminta laporan neraca minimal tiga bulan terakhir untuk melihat perbandingan pendapatan dan belanja.
Jangan sampai kondisi keuangan justru lebih besar pengeluaran dibanding pemasukan. “Kalau tidak sehat, subsidi berapa pun akan habis. Harus ada orientasi bisnis agar bisa menyumbang PAD,” pungkasnya. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi