Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pertanyakan BRK Reborn yang Mana? Petani Bondowoso Kopi Belum Rasakan Gaung BRK Lagi?

Ilham Wahyudi • Rabu, 10 Juni 2026 | 11:52 WIB
DIBERSIHKAN: Sejumlah pekerja kopi di Bondowoso memisahkan kulit dan biji kopi menggunakan alat khusus, beberapa waktu lalu. (ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)
DIBERSIHKAN: Sejumlah pekerja kopi di Bondowoso memisahkan kulit dan biji kopi menggunakan alat khusus, beberapa waktu lalu. (ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)

 

radar jember - WACANA Bondowoso Republik Kopi (BRK) Reborn, yang digaungkan oleh pemerintah daerah, hingga kini belum dirasakan manfaatnya oleh para petani kopi di Bondowoso.

Mereka bahkan kebingungan dengan istilah reborn tersebut, akibat belum ada langkah nyata yang terlihat secara pasti.

Salah seorang petani kopi di Bondowoso, Saleh menilai Pemkab Bondowoso menggaungkan BRK Reborn sah-sah saja.

Namun, makna reborn harus benar-benar dilaksanakan.

Artinya para petani mendapatkan sentuhan kembali, baik berupa pembinaan atau pelatihan untuk mengembangkan kopinya.

“Tahun kemarin reborn juga. Cuma kegiatannya kan di kota, justru yang di inovasi itu teman-teman yang separuh buyer,” katanya.

Jika pola tersebut terus digunakan, maka dampak BRK Reborn terhadap petani tidak akan berpengaruh apapun.

Menurut Saleh, seharusnya para petani yang dilibatkan pertama kali.

Sehingga kualitas dan kuantitas kopi yang dihasilkan mampu bersaing dengan kopi daerah lain.

“Kalau kualitas kopi Bondowoso luar biasa. Jadi sekarang yang dibutuhkan kuantitas,” imbuhnya.

Dia juga menilai, dalam beberapa tahun terakhir, BRK yang digaungkan pemerintah daerah, hanya membantu pada branding saja. Bahkan mereka sampai kebingungan versi BRK Reborn seperti apa.

“Apakah versi anggaran atau versi politik atau versi apa. Tapi yang jelas, petani kopi tetap menggaungkan BRK,” tegasnya.

Melihat hal tersebut, Saleh berharap Pemkab, Petani, Perhutani, hingga Perbankan untuk permodalan.

Untuk membahas persoalan, kendala hingga inovasi dan pelatihan yang dapat diterapkan oleh petani.

“Kemudian dari Pemkab, harus ada lah tim ahli yang paham tentang itu (kopi, red)” ujarnya.

Lebih lanjut, Saleh juga menegaskan, jika pemkab serius dengan wacana BRK Reborn, maka harus ada rencana yang jelas.

Bagian mana yang harus digarap terlebih dahulu, hulu di tingkat petani atau hilir di tingkat penjual dan pembeli.

Semua organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, juga harus berperan aktif.

“Harus ada kejelasan kolaborasi, jadi programnya bertahap nanti. Biar tidak merasa jalan sendiri-sendiri,” pungkasnya. (ham/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#berita bondowoso #kopi bondowoso #Bondowoso