NANGKAAN, Radar Ijen – Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di Bondowoso. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), resmi menetapkan status siaga kekeringan menyusul meningkatnya potensi krisis air bersih di sejumlah wilayah.
Penetapan itu tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Bondowoso. Sedikitnya sembilan kecamatan masuk dalam peta rawan kekeringan. Cakupannya meliputi 13 desa, 20 dusun, dengan potensi terdampak mencapai 1.784 kepala keluarga (KK).
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bondowoso Kristianto Putro Prasojo mengatakan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi ancaman kekeringan. Mulai dari penanganan darurat hingga program jangka panjang.
“Sudah kami tetapkan sebagai siaga kekeringan melalui SK Bupati yang mana meliputi 9 kecamatan, 13 desa, 20 dusun, dan 1.784 KK,” jelasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga, BPBD telah mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah terdampak.
Penyaluran itu direncanakan dilakukan sebanyak 28 kali dengan menyesuaikan kemampuan anggaran yang tersedia.
“Ini nanti akan kami lanjutkan dengan beberapa skema,” ujarnya.
Tak hanya itu, BPBD juga menyalurkan bantuan tandon air guna membantu masyarakat menampung pasokan air selama musim kemarau berlangsung.
Sementara untuk solusi jangka panjang, BPBD mengusulkan pembangunan sumur bor kepada BPBD Provinsi Jawa Timur maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Upaya lain juga dilakukan melalui penjajakan kerja sama dengan dunia usaha dan organisasi kemanusiaan, untuk memperkuat penyediaan sumber air di daerah terdampak.
Kebutuhan distribusi air bersih ke depan masih akan terus dikaji.
Termasuk kemungkinan dukungan dari BPBD Provinsi Jawa Timur maupun skema pembiayaan lain agar penanganan kekeringan di Bondowoso dapat lebih optimal.
Di sisi lain, pemetaan daerah rawan kekeringan telah dilakukan sebagai pijakan penyusunan program berkelanjutan.
“Kami akan koordinasi dengan instansi teknis untuk bisa diintervensi program pengadaan air bersih,” pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi