SUMBER TENGAH, Radar Ijen - Kenaikan harga singkong dalam sebulan terakhir, mulai memukul industri tape di Bondowoso. Harga komoditas yang menjadi bahan baku utama tape itu, melonjak lebih dari dua kali lipat, dari semula Rp 2.000 menjadi Rp 4.500 per kilogram.
Lonjakan harga tersebut diduga dipicu semakin menyusutnya lahan pertanian singkong. Banyak petani beralih menanam komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan, seperti tebu, jagung, sengon, hingga kedelai.
Di sisi lain, jumlah pengusaha tape terus bertambah sehingga kebutuhan bahan baku semakin tinggi.
Kondisi itu berdampak langsung terhadap para pelaku usaha tape, terutama di Sentra Industri Tape Desa Sumber Tengah, Kecamatan Binakal.
Koordinator Pengusaha Tape Sentra Tape Binakal, Rahmatullah, mengatakan kelangkaan bahan baku membuat sebagian besar pelaku usaha terpaksa mengurangi kapasitas produksi. Bahkan, ada yang menghentikan aktivitas usahanya sementara waktu.
Dari total 138 pengusaha tape yang tergabung di sentra tersebut, sekitar 60 persen diantaranya telah mengurangi produksi. Rahmatullah mengaku turut merasakan dampaknya.
Jika biasanya mampu mengolah satu ton singkong setiap dua hari sekali, kini produksinya turun menjadi sekitar lima kuintal. "Kami tidak bisa dikirimi singkong kalau belum bayar tunai," jelasnya.
Dia juga menyebut, selama ini para pengusaha tape lebih memilih menggunakan singkong asli Bondowoso, karena kualitasnya lebih baik untuk diolah menjadi tape. Singkong dari luar daerah memang memiliki harga yang lebih murah.
Namun, kualitas hasil tapenya dinilai kurang baik karena kandungan air yang terlalu tinggi. Selain itu, keunggulan singkong luar daerah umumnya hanya pada ukuran umbi yang lebih besar.
"Di Bondowoso itu biasanya kami beli di Tamanan. Di seluruh daerah Bondowoso sebetulnya singkongnya bagus, tapi memang ada kelas-kelasnya," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Masturi, pemilik usaha Tape 67 di kawasan yang sama. Dia mengaku sudah sebulan terakhir memangkas volume produksi akibat kesulitan mendapatkan bahan baku. Biasanya, usaha yang dikelolanya mampu mengolah hingga dua ton singkong per pekan. Namun kini jumlahnya merosot drastis menjadi hanya dua hingga tiga kuintal. "Sementara itu, omzet penjualan juga menurun. Mau dinaikkan dari harga Rp 12 ribu per kilogram, pembelinya tidak mau," jelasnya.
Para pelaku usaha berharap pemerintah daerah turun tangan membantu mengatasi persoalan tersebut. Selain bantuan permodalan, mereka juga mengusulkan adanya lahan khusus yang diperuntukkan bagi budidaya singkong guna menjamin pasokan bahan baku industri tape di Bondowoso. "Pertama bantuan permodalan, dan kedua adalah ketersediaan lahan untuk ditanami singkong," pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi