CINDOGO, Radar Ijen – Ketua Tanfidziyah PCNU Bondowoso terpilih, Dr Moh Syaeful Bahar, menegaskan komitmennya untuk membawa organisasi berjalan sesuai khittah Nahdlatul Ulama.
Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menyusun program kerja, berbasis pendekatan saintifik agar lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan warga nahdliyin.
Menurut pria yang akrab disapa Pak Bahar itu, NU memiliki prinsip yang selama ini menjadi pijakan dalam menjalankan organisasi, yakni menjaga tradisi yang baik sekaligus terbuka terhadap berbagai hal baru yang membawa kemaslahatan.
“Di NU itu ada visi yang sangat penting. Jadi kita akan terus mempertahankan tradisi-tradisi baik kita dan kita tentu tidak akan menolak sesuatu yang lebih baik,” ujar dosen di UINSA Surabaya itu.
Bahar menjelaskan, kepengurusan yang dipimpinnya akan berupaya mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki NU melalui berbagai pendekatan.
Salah satunya dengan menerapkan metode saintifik dalam penyusunan program kerja.
“Artinya kami akan terus berusaha mengembangkan potensi yang kita punya dan kami akan coba dengan berbagai pendekatan. Misalnya ya, semua program kerja nanti kita akan lakukan dengan pendekatan saintifik,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, PCNU Bondowoso akan memetakan terlebih dahulu potensi organisasi, sekaligus mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Hasil pemetaan itu kemudian menjadi dasar dalam merumuskan program kerja yang relevan dan dibutuhkan warga.
“Kita akan memulai dengan membaca potensi yang dimiliki NU seperti apa, lalu persoalan yang ada di masyarakat seperti apa, dan yang pasti bahwa jamiyah ini harus berorientasi pelayanan kepada jemaah,” tegasnya.
Menurut dia, NU harus hadir sebagai organisasi yang mampu melayani dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat. Karena itu, seluruh program yang dijalankan harus memiliki orientasi pelayanan yang nyata.
“NU harus melayani, NU harus memfasilitasi kebutuhan yang ada real ada di penaturan masyarakat. Tentu itu tanggung jawab yang harus kita ikhtiarkan untuk kita kejar,” tuturnya.
Selama ini, lanjut dia, peran NU masih cukup dominan dalam pelayanan yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan dan ritual. Ke depan, pihaknya ingin memperluas jangkauan pelayanan, terutama pada sektor kesehatan dan pendidikan.
“Karena memang hari ini NU lebih dominan dalam memberikan pelayanan yang berkaitan dengan ritual-ritual,” imbuhnya.
Karena itu, peningkatan layanan di bidang kesehatan dan pendidikan akan menjadi salah satu fokus kepengurusan mendatang.
Dia optimistis hal tersebut dapat diwujudkan karena NU memiliki sumber daya manusia yang melimpah.
“Kami akan coba untuk belajar, kita ikhtiar untuk memperbaiki bagaimana pelayanan dalam bidang kesehatan, pendidikan itu akan lebih masif kita perbaiki dan kita lakukan,” ungkapnya.
Menurut Bahar, tantangan utama saat ini bukan pada ketersediaan sumber daya manusia, melainkan bagaimana mengorganisasi potensi yang ada menjadi kekuatan bersama untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“SDM kita itu berlimpah sekali dalam hal itu, namun yang mungkin harus kita lakukan adalah mengorganisir SDM itu menjadi sebuah kekuatan real untuk perbaikan itu,” pungkasnya. (*)
Editor : Ilham Wahyudi