Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Hampir Tiap Tahun Jembatan Desa di Bondowoso Ini Dua Kali Rutin Rusak

Ilham Wahyudi • Kamis, 28 Mei 2026 | 16:21 WIB
DIPERBAIKI: Salah seorang warga menyeberang jembatan di Desa Sumbersalak yang sedang diperbaiki lewat program Jembatan Perintis Garuda.(ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)
DIPERBAIKI: Salah seorang warga menyeberang jembatan di Desa Sumbersalak yang sedang diperbaiki lewat program Jembatan Perintis Garuda.(ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)

 

SUMBERSALAK, Radar Ijen - Bertahun-tahun warga di perbatasan Desa Sumbersalak Kecamatan Curahdami dan Desa Desa Wonosari Kecamatan Grujugan, harus berjibaku dengan jembatan bambu yang kerap hanyut diterjang banjir. Bahkan, dalam setahun warga bisa dua kali bergotong royong memperbaikinya.

Kini, harapan itu mulai tampak setelah program Jembatan Perintis Garuda dari Presiden Prabowo Subianto mulai dikerjakan.

Baca Juga: Info Lantas Bondowoso: Tumpahan Solar Kembali Makan Korban, Hati-hati di Lokasi Ini

Tiang penyangga jembatan gantung sepanjang 20 meter itu, sudah terpasang dengan kokoh. Jembatan itu, biasanya digunakan untuk akses ekonomi, pertanian hingga pendidikan.

Sebelumnya, setiap musim hujan datang, warga selalu dihantui kekhawatiran. Arus sungai yang deras kerap merobohkan jembatan bambu swadaya yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat. “Kadang-kadang waktu musim hujam terus di bawah itu digerus. Akhirnya jembatan itu roboh,” ujar Bahrawi, warga setempat.

Tak tanggung-tanggung, warga harus memperbaiki jembatan itu hampir setiap tahun. Bahkan, tahun ini saja sudah dua kali rusak diterjang banjir.

Baca Juga: SMA Negeri 2 Bondowoso Berkualitas yang Berwawasan Lingkungan dan Mampu Bersaing di Era Global

“Swadaya, iya. Bambunya itu kadang hampir seratus pohon,” katanya.

Saat jembatan putus, aktivitas warga praktis lumpuh. Anak-anak sekolah terpaksa memutar jauh, bahkan ada yang harus menyeberang sungai dengan risiko tinggi. “Yang saya kasihan itu sama anak-anak sekolah,” ungkapnya.

Ia bercerita, dulu banyak anak dari Wonosari bersekolah ke Sumbersalak maupun sebaliknya. Namun karena jembatan sering rusak, sebagian akhirnya memilih pindah sekolah.

Tak hanya pendidikan, aktivitas ekonomi warga juga ikut terganggu. Banyak warga yang memiliki sawah di desa seberang harus menunggu air surut berhari-hari agar bisa menyeberang. “Kadang-kadang selama lima hari, tujuh hari tidak ke sana,” imbuhnya.

Tim Teknis Jembatan Perintis Garuda, Agung Kris menjelaskan, jembatan itu nantinya menggunakan struktur jembatan gantung dengan alas kayu mahoni. Panjang jembatannya ini rencananya 20 meter, lebarnya 1,20 meter.

Jembatan tersebut memang diperuntukkan bagi sepeda motor dan pejalan kaki. Sementara proses pengerjaannya melibatkan tenaga warga setempat untuk pekerjaan bangunan dasar. “Kalau untuk pekerja batunya kita menggunakan orang setempat,” pungkasnya. (ham/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#berita bondowoso #jembatan desa #Presiden Prabowo #Bondowoso