radar jember - SAAT kemarau tiba, warga Dusun Geddingan, Bondowoso, kembali menghadapi ritual tahunan, berjalan dan meniti jalan ekstrim demi mendapatkan air bersih.
Sungai menjadi sandaran hidup, sementara tandon bantuan berubah menjadi penjaga terakhir kebutuhan sehari-hari.
Kemarau belum benar-benar panjang.
Baca Juga: 13 Desa dari 9 Kecamatan Terdampak, Bencana Kekeringan Mulai Melanda Bondowoso
Namun, warga Dusun Geddingan, Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Bondowoso, sudah mulai akrab dengan antrean jeriken dan perjalanan menuju sumber air.
Dusun di lereng perbukitan itu memang hampir setiap tahun masuk daftar wilayah terdampak kekeringan.
Dalam SK status siaga darurat bencana kekeringan Bondowoso, Dusun Geddingan memang tercatat mengalami krisis air bersih.
Bagi warga setempat, musim kemarau berarti kembali bergantung pada Sungai Duren. Jaraknya sekitar dua kilometer dari pemukiman warga.
“Sekitar 2 kilometer,” ujar Astutik dalam bahasa Madura.
Jika menggunakan sepeda motor, perjalanan memang hanya beberapa menit. Namun, jalannya menanjak dan ekstrim. Apalagi bila harus membawa jerigen penuh air. Sementara bagi warga yang berjalan kaki, perjalanan itu terasa jauh dan melelahkan.
Astutik mengaku, dirinya bersama keluarga biasa pergi ke Sungai Duren hingga tiga kali sehari. Air sungai digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian. Sedangkan kebutuhan air minum ditampung menggunakan tandon lipat bantuan BPBD dan tiga jerigen besar. “Biasanya dipakai seminggu habis,” ujarnya.
Saat hujan turun, warga segera membuka tandon dan jerigen untuk menampung air hujan. Begitu pula ketika bantuan distribusi air bersih dari BPBD datang. Warga biasanya sudah menunggu sambil membawa timba dan jerigen masing-masing. Sementara tandon besar di dusun langsung diisi untuk kebutuhan bersama warga sekitar.
Leman, Danru Regu 2 TRC BPBD Bondowoso, mengatakan, tak ada batasan bagi warga yang meminta air bersih. Selama air bersih masih ada, pasti akan dibagikan. Dalam sekali pengiriman, mereka membawa 10 ribu liter air bersih. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi