KLEKEAN, Radar Ijen - Bencana kekeringan mulai melanda Bondowoso. Berdasarkan SK Bupati tentang status siaga darurat bencana kekeringan di Bondowoso 2026, tercatat ada 13 desa dari 9 kecamatan yang terdampak.
Hal tersebut membuat BPBD mulai melakukan pengiriman air bersih secara rutin, sejak beberapa hari lalu.
Penyaluran dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah berbeda. Biasanya pengiriman dilakukan menggunakan dua armada truk tangki, dengan kapasitas masing-masing 5 ribu liter air.
Dalam satu daerah terdampak, biasanya akan dikirim air sebanyak 10 ribu liter air.
Kalaksa BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo mengatakan, penyaluran kekeringan akan terus dilakukan di 20 dusun yang tersebar di 13 desa dan sembilan kecamatan.
Ia menerangkan penentuan wilayah terdampak kekeringan dalam SK tersebut merupakan hasil pemetaan baik secara faktual atau pun kajian di lapangan.
Di SK tersebut selain wilayah terdampak kekeringan, juga diterangkan jumlah KK terdampak. Jumlahnya yakni 1784 kepala keluarga atau 7.136 penduduk.
Jumlah desa hingga KK terdampak ini lebih sedikit dibanding bencana kekeringan sebelumnya. Tahun sebelumnya ada sekitar 12 kecamatan dengan jumlah KK 4 ribu lebih.
Penurunan ini diprediksinya karena ada beberapa intervensi program baik dari pemerintah, PMI, atau pun yayasan. Seperti pembangunan sumur bor, aksi melindungi sumber mata air, dan Pamsimas. "Harapannya dengan intervensi itu bisa mengurangi jumlah wilayah kekeringan," katanya.
Berdasarkan prediksi BMKG, kemarau akan melanda Bondowoso hingga tujuh bulan kedepan. Hal tersebut membuat potensi kekeringan masih terus berlanjut. Meski demikian, anggaran untuk penyaluran air bersih yang tercantum dalam APBD 2026, diprediksi hanya cukup untuk pengiriman selama 30 hari saja. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi